Banyak
suara dari atas berkata, “ayo keluar dari
sumur itu, ayo keluar,” seolah ajakan adalah segalanya.
seolah-olah
sosok di dalam gelap memilih tinggal, menjadikan kubangan pekat sebagai tempat
yang ia suka.
padahal
bisikan-bisikan itu sering terdengar seperti penghakiman yang berdiri.
seakan
sumpah-setia yang memaksa seseorang menanggung nasib yang tak pernah ia pilih
sendiri.
Tak ada
yang tahu bahwa penghuni dasar sumur tak pernah ingin menetap lama.
ia sudah
mencoba mencari tali, meraba dinding licin, terus naik meski kulitnya luka.
setiap
cakarannya membekas, setiap napas memar mencoba menepi.
bahkan
batu yang dilempar ke atas pun jatuh kembali, menghantam tubuh yang belum
sempat pulih lagi.
Mengapa
mata di atas tak mampu melihat perjuangan yang tersembunyi di balik gelap yang
sama?
bahwa
usahanya jauh lebih berat daripada sekadar seruan “ayo keluar” yang terdengar mudah dari sana.
ada tenaga
yang dikumpulkan, ada keberanian yang bertahan meski berkali-kali hampir mati.
ia sudah
berusaha, sungguh.
Ia sudah
berjuang sekeras yang mampu ia beri.
Komentar
Posting Komentar