Takdir kerap datang tanpa salam,
seperti arus yang menubruk lautan,
membawamu ke hadapan,
padahal tak pernah kupintakan.
Hadirmu,
bukan yang kucari, bukan yang kutunggu,
namun hadirmu menjelma belati,
menyisakan perih di ladang hati.
Andai garis perjumpaan bisa kupatahkan,
tentu kupilih daratan sepi,
jalan yang tak menyambungkan interaksi.
Tetapi,
semesta gemar berkelindan,
menjahit benang luka
di antara kita yang tak pernah semestinya ada.
Komentar
Posting Komentar