Ada yang tak menyukai senja, dengan alasan sederhana: ia tak suka kehilangan.
“Senja itu pasti datang, tapi harus menghilang dulu." katanya, seolah takut pada perpisahan yang selalu dibawa langit jingga.
Bagiku, senja bukan sekadar datang dan pergi. Ia semacam jeda, semacam ruang kecil yang memberi kesempatan untuk bernapas lebih pelan.
Ada hasrat yang tiba-tiba tumbuh saat menatapnya, seakan langit sedang membisikkan sesuatu yang tak mampu dituliskan.
Terima kasih, Tuhan, sudah menitipkan senja untuk belajar menerima, tanpa harus benar-benar memiliki.
Komentar
Posting Komentar