Aku paling mengagumi bagian ini.
Saat diriku dengan kelewat nekatnya memuja secara diam-diam.
“Lalu bagaimana dengan diriku yang tak mampu membalas kembali perasaanmu?”
Ah, siapa yang akan menghiraukan?
Ini semata-mata perkara hati, maka meski tak tersambut diriku tetap baik-baik saja.
Meski ada getir yang tak bisa kusembunyikan.
Tawaku terdengar bening pada baris ini.
Engkau yang terus kucintai, ternyata tak sanggupkah melihat seberkas ketulusan ini?
Maka kutentukan engkau sebagai maha karya.
Yang harus kutinggalkan dalam jejak kata yang berpuisi.
Kuharap bisa kusimpan dengan sempurna.
Tentang kasih, tentangmu, tentang rela.
Kekallah engkau laksana cahaya bintang.
Dalam goresan milik malam yang berbulan.
Komentar
Posting Komentar