Latar: Aula kampus tempat pentas seni berlangsung.
Waktu: Sore menjelang malam, pukul 17.00 – 19.00 WIB.
Tokoh:
Kanaya : Mahasiswi baru, kekasih Kenneth.
Kenneth : Kekasih Kanaya, tinggal di Semarang.
Jenna : Teman kuliah Kanaya, ceria dan perhatian.
Venove : Teman kuliah Kanaya, lembut dan sentimentil.
Noel, Rizki, Cindy, Diya : Teman SMA Kanaya dan Kenneth.
~~~~~~~
(Sore yang lembut. Cahaya matahari menembus kaca aula, memantul di lantai yang mengilap. Suara riuh panitia dan musik latihan terdengar samar di kejauhan. Kanaya duduk di sudut aula, menatap layar ponsel. Jemarinya ragu mengetik sesuatu.)
Jenna: (mendekat, sambil menata rambut di depan cermin kecil.)
Teman-teman SMA kamu jadi datang, Nay?
(Kanaya menatap Jenna dan tersenyum kecil.)
Kanaya: Jadi kok. Katanya mereka datang setelah Magrib nanti.
Venove: (menatap Kanaya penuh rasa kagum)
Duh, andai aja pertemanan SMA-ku seasik kamu, Nay. Seru banget ya, kalian masih sedekat itu.
Jenna: (menarik tangan Venove manja)
Sudah Veve, ayo temenin aku ke toilet dulu. Outer-ku kusut banget dari tadi.
(Keduanya berjalan pergi sambil tertawa pelan. Kanaya kembali menunduk, menatap layar ponselnya yang kini bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Noel.)
Kanaya: (mengangkat ponsel dengan nada cemas)
Halo, Noel. Tolong bilang ke Kenneth, gak usah datang ya. Aku sungguh gak apa-apa. Lagian acara kayak gini tiap tahun juga ada. Dia bisa lihat tahun depan aja.
Noel: (dari seberang telepon, terdengar angin jalanan)
Telat, Nay. Dia udah otw dari tadi. Kamu tau sendiri Kenneth gimana, kalau udah niat, gak bisa dicegah. Katanya dia pengen liat kamu tampil.
Kanaya: Tapi El, jarak Semarang–Jogja lumayan jauh. Weekend pula, pasti macet. Dia gak ada persiapan sama sekali. Aku khawatir...
Noel: Tenang, Nay. Kenneth pasti aman. Kamu fokus aja dulu ke pentasmu malam ini.
(Panggilan terputus. Kanaya menatap layar ponselnya lama, sebelum menarik napas dalam. Waktu terus bergulir. Jarum jam menunjukkan pukul 18.00. Aula makin ramai. Lampu-lampu panggung mulai menyala satu per satu.)
(Suasana berubah. Teman-teman SMA Kanaya sudah datang. Noel, Rizki, Cindy, dan Diya. Mereka tertawa, berfoto bersama, bernostalgia di tengah gemuruh musik latihan.)
Diya: (melirik Kanaya)
Nay, kamu kenapa gelisah banget? Gugup, ya?
Rizki: (meledek) Atau jangan-jangan... karena sang pangeran belum muncul juga nih?
(Semua tertawa. Sementara Kanaya hanya cemberut malu-malu.)
Noel: Sabar, Nay. Paling bentar lagi juga sampai.
Cindy: Iya, sambil nunggu mending kamu touch up dulu. Jangan sampai Kenneth datang kamu udah kayak pemain drama tragis.
(Semua tertawa lagi. Kanaya ikut tersenyum, meski hatinya tetap gelisah. Jam menunjukkan pukul 19.00. Suara langkah terdengar di belakang. Kenneth muncul, mengenakan kemeja hitam dan celana putih. Di tangannya, buket bunga kesukaan Kanaya. Wajahnya lelah tapi matanya hangat.)
(Kanaya berdiri. Mereka saling menatap beberapa detik, lalu Kanaya memeluk Kenneth erat — pelukan yang menyimpan rindu dan lega sekaligus.)
Kanaya: (lirih) Aku kan sudah bilang, Ken... gak perlu jauh-jauh datang. Aku khawatir. Ponselmu gak aktif sama sekali, aku takut sesuatu terjadi.
Kenneth: (tersenyum lembut)
Yakali aku gak datang, Nay. Ini pentas seni pertama kamu di kampus. Aku harus ada.
(Kenneth menyerahkan buket bunga ke Kanaya.)
Kenneth: Selamat ya, Nay. Semoga kamu betah di jurusan ini, dan semoga kamu selalu dikelilingi orang-orang baik.
(Kanaya menerima bunga itu, tersenyum tulus. Cahaya lampu panggung mulai meredup. Mereka berfoto bersama teman-teman, tawa dan canda memenuhi ruangan.)
(Suara musik pembuka pentas terdengar, perlahan menelan suara mereka. Kanaya menatap bunga di tangannya, lalu menatap Kenneth, mata mereka bertemu, dalam diam yang hangat.)
Kanaya: (pelan, nyaris berbisik)
Sore ini... akhirnya lengkap.
(Lampu perlahan padam. Tirai turun.)
Komentar
Posting Komentar