Hidup yang hanya sekali ini, beruntunglah Bu Naya dipertemukan dengan Pak Ken, hidup bersama, dan semoga selamanya.
~~~~
Di tepi pantai yang oleh sebagian orang disebut 0 mdpl, terbentang deretan permukiman sederhana. Di salah satu rumahnya, seorang wanita paruh baya, Bu Naya, duduk di beranda, menatap laut yang mulai meredup, menanti kepulangan lelaki yang paling ia sayangi.
Nala: “Masuk, Bu. Hari sudah senja.”
Bu Naya: “Nanti saja. Ayahmu sebentar lagi pulang.”
Nala membiarkan ibunya tetap di sana, hingga malam menjelma pukul delapan, saat warung kecil mereka hendak ditutup. Nala menghampiri sang ibu, lalu memeluknya lembut.
Nala: “Kita doakan Ayah, ya, Bu.”
Sejak lima tahun lalu, Bu Naya kehilangan kesadarannya, tepat setelah lelaki yang dicintainya itu hilang ditelan laut. Sejak saat itu, sebagian dari ingatannya pun tertinggal di sana, di tepian samudra, bersama kenangan tentang lelaki kesayangannya yang tak pernah kembali.
Komentar
Posting Komentar