Disaat aku membuka TikTok di malam ini, sebuah akun @lastofalphabeth lewat di berandaku. Dia bercerita tentang muridnya, seorang anak ambis di kelas, yang dikenal paling pintar, paling rajin, dan selalu jadi tempat bertanya teman-temannya. Hari itu, sang guru mengadakan kegiatan kelompok membuat bangun ruang. Semua kelompok kesulitan dan rata-rata kesulitannya lem kertas tidak menempel, bentuknya miring atau hasilnya belum sempurna. Ada dua kelompok yang sudah selesai, tapi kelompok anak ambis itu belum berhasil menyelesaikan tugasnya.

Anak itu terlihat kecewa, iri, mungkin juga marah pada dirinya sendiri. Ia menangis tersedu-sedu, sampai tak mampu menahan air matanya, anak itu tak kunjung berhenti bahkan setelah mencuci muka. Sang guru hanya bisa mendekat dengan lembut, membiarkannya menumpahkan semua rasa. Setelah cukup tenang, sang guru berkata dengan penuh kasih,

“Setiap orang punya prosesnya masing-masing. Lambat bukan berarti kalah, cepat bukan berarti menang. Jangan berhenti saat gagal, tapi teruslah berproses. Hidup itu bukan tentang siapa yang duluan sampai, tapi siapa yang mau bertahan dan belajar dari setiap jatuhnya.”

Kata-kata itu seperti pelukan hangat di tengah kecewa. Tak lama, tangis anak itu mulai reda. Ia bahkan bangkit, mencuci muka, lalu dengan tulus meminta maaf pada teman-temannya atas amarahnya tadi.

Keren sekali Ibu guru itu, tersentuh hatiku membacanya. 🥺❤️

Komentar