Hari ini aku menghabiskan hampir seluruh waktu di luar rumah. Sejak pukul delapan pagi hingga pukul tujuh malam, baru aku bisa merasakan nikmatnya rebahan di kasur.
Pagi tadi, kami merayakan ulang tahun keponakanku dengan membuat kejutan kecil saat ia baru membuka mata. Siangnya, kami melanjutkan perayaan dengan makan bersama di CafĂ© Mahardika — meskipun aku sendiri tidak banyak makan.
Siang itu seharusnya hanya tentang keluarga dan perayaan sederhana. Tapi entah kenapa, setelah mereka pulang, pikiranku malah tertuju pada seseorang dari masa lalu, orang yang dua hari sebelumnya tiba-tiba menghubungiku. Seseorang yang dulu pernah menyakiti hati, kini muncul kembali dengan ajakan untuk bertemu. Aku tidak ingin ribet, jadi kusuruh saja datang ke Mahardika setelah semuanya usai. Dan akhirnya, setelah sekian lama, kami bertemu lagi. Anggap saja ini pertemuan pertama kami yang sebenarnya semacam first date yang tidak pernah kurencanakan, karena kukira semua sudah berakhir.
Semakin dewasa, aku semakin menyadari bahwa keluarga tidak selalu tentang momen bahagia. Kadang ada perdebatan, rasa kesal, atau bahkan saling diam. Namun pada akhirnya, merekalah yang pertama mencari ketika kita belum juga pulang. Keluarga itu ibarat jangkar yang membuat kita tak bisa pergi sejauh yang kita inginkan, tetapi juga menjadi alasan mengapa kita tidak pernah benar-benar tenggelam.
Komentar
Posting Komentar