Bahagia Yang Diharamkan?

Hari ini, kubaca sebuah cerita pendek "Pulang" yang kisahnya sama seperti "kami". Hamba Allah dan Anak Tuhan. 
Benci sekaliku membacanya, membaca kisah yang endingnya tidak bersama. Aku benci pada perpisahan, benci kehilangan, dan semua yang sejenis dengan itu. 

Tadi dikelas dosenku bertanya, "Jika kamu menjadi penulisnya apa yang akan kamu tulis untuk akhir cerita ini?".

Akan kujawab disini saja, karena namaku tidak disebut dikelas tadi. Yang kutulis, mereka akan hidup sangat bahagia dengan menganut agama Islam, memiliki sepasang anak yang baik, dan mewujudkan semua yang ada dilagu Sal Priadi - Kita usahakan rumah itu. Takkan kubiarkan ada satu konflikpun di akhir cerita yang bahagia itu. Persetan dengan kehidupan di dunia nyata yang mengatakan "wanita muslim tidak boleh menikahi lelaki ahli kitab", biarkanlah dalam tulisanku mereka berdua hidup bahagia, selamanya. 

Komentar

Posting Komentar