fyi, aku sudah menontonnya sejak Senin kemarin, tapi baru ingat diulas sekarang.
Film Hujan Bulan Juni dari yang ku cari tahu di internet dan media sosial merupakan adaptasi dari puisi dan juga novel karya Pak Sapardi Djoko Damono. Kalau aku boleh jujur, film ini bukan tipe film yang gampang dicerna semua orang. Temponya lambat, penuh dialog sunyi, dan banyak simbol yang butuh waktu untuk dimaknai. Bagi penonton yang terbiasa dengan drama cinta yang heboh dan penuh konflik, film ini mungkin terasa membosankan. Tapi justru di situlah perbedaannya, Hujan Bulan Juni bukan sekadar kisah cinta biasa, melainkan puisi yang bergerak pelan di layar.
Cerita berpusat pada Sarwono, lelaki Jawa beragama Islam yang menjadi dosen antropologi budaya di UI, dan Pingkan, perempuan Manado beragama Kristen yang juga dosen muda di kampus yang sama. Keduanya mencintai satu sama lain, tapi perbedaan agama dan budaya membuat cinta itu terasa berat untuk dijalani. Keluarga Pingkan berasal dari Manado yang kuat sekali memegang nilai-nilai Kristen dan budaya mereka. Mereka hidup dengan prinsip bahwa keharmonisan keluarga itu penting, apalagi kalau seiman. Sementara itu, keluarga Sarwono tidak terlalu banyak ditunjukkan di film, tapi dari sifatnya yang lembut dan kalem, kelihatan kalau dia berasal dari keluarga Jawa yang sederhana dan religius. Meski Sarwono terbuka dengan perbedaan, dia tahu betul kalau hubungan beda agama di Indonesia itu bukan hal yang mudah untuk dijalani.
Sampai akhirnya Pingkan dapat kesempatan lanjut studi ke Jepang, dan di sanalah dia bertemu Katsuo. Pingkan dan Katsuo terlihat dekat sekali, bahkan seperti pasangan. Ada satu momen waktu mereka berfoto bersama, Katsuo merangkul pinggang Pingkan, adegan yang cukup ngilu. Dari situ mulai kelihatan kalau mungkin, di hati kecilnya, Pingkan punya rasa yang lain. Apalagi dari awal, Sarwono sudah mengatakan kalau dulu Pingkan memang mengidolakan Katsuo.
Ada satu adegan yang cukup dalam, waktu Pingkan di Gorontalo. Dia bangun tidur, lalu membaca ini:
"Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam lembaran saputangan yang telah ditenunnya sendiri... Bagaimana mungkin seseorang bisa tiba-tiba terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun... oleh kerinduannya sendiri... oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan suara yang bernama kasih sayang. Bagaimana mungkin."
Bagiku, prosa itu sperti suara hati Pingkan sendiri. Dia ingin melepaskan diri dari hubungannya dengan Sarwono yang sudah lama sekali, tapi tidak bisa. Ia sayang, ia cinta, tapi di saat yang sama ia sadar, mereka mungkin tidak akan bisa benar-benar bersama.
Selain itu, film ini seperti menahan diri untuk terlalu realistis. Konflik beda agama dan budaya yang jadi inti ceritanya terasa hanya disentuh di permukaan, tidak benar-benar dihadapkan pada realitas sosial yang lebih keras. Mungkin memang karena Pak Sapardi ingin menonjolkan keindahan simbolis cinta, bukan pertentangan sosialnya, tapi untuk sebagian penonton seperti aku, akhir yang terlalu tenang justru terasa menggantung.
Komentar
Posting Komentar