Hari ini, aku bersama temanku memutuskan untuk mendaki bukit karena merasa suntuk di rumah. Ini sama sekali tidak direncanakan, bahkan kami baru berangkat sekitar pukul empat sore. Awalnya, kami hanya ingin mencari spot foto yang bagus untuk menikmati sunset. Entah bagaimana, tiba-tiba saja Bukit Banarahu terlintas di pikiran, dan tanpa pikir panjang, kami langsung berangkat ke sana.
Aku dan temanku sangat antusias karena banyak orang bilang tempat itu indah sekali. Hari Sabtu sore dengan lalu lintas yang cukup ramai, kami tetap nekat berangkat. Sesampainya di sana sekitar pukul setengah lima, kami segera bersiap untuk naik dan tak lupa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Awalnya kami sempat heran, karena tempat itu terasa sepi sekali, hanya ada beberapa warga lokal yang berjaga dan dua motor pendaki. Saat kami bertanya apakah ada orang di atas, mereka bilang ada. Jadi, kami pun mulai mendaki. Awalnya terasa biasa saja. Kami beberapa kali berhenti untuk istirahat sebentar, lalu lanjut lagi.
Hingga akhirnya, kami mendengar suara keramaian dari kejauhan, ramai sekali. Kami berhenti sejenak dan berzikir dalam hati. Ternyata, suara itu berasal dari para tentara muda di batalyon yang sedang latihan fisik. Kami pun lega dan melanjutkan perjalanan.
Namun entah kenapa, aku mulai merasa sangat lelah. Bukan lelah karena mendaki, tapi seperti ada rasa berat yang sulit dijelaskan. Meski begitu, kami tetap melanjutkan perjalanan. Hingga di tanjakan keempat, aku mulai merasa mual dan pandanganku berangsur gelap. Aku memberi tahu temanku, lalu kami beristirahat sebentar. Tapi setelah lima menit, rasa mual itu malah semakin parah sampai aku muntah.
Kami sempat mencoba melanjutkan lagi karena puncak sudah dekat, tetapi seolah-olah ada sesuatu yang menghalangi kami untuk naik. Karena suasana terasa tidak kondusif, akhirnya kami memutuskan untuk turun.
Sesampainya di bawah, temanku ingin bercerita, tapi aku melarang karena aku sudah bisa menebak maksudnya. Kami pun pulang sekitar pukul enam sore, saat hari sudah mulai gelap. Sepanjang perjalanan, udara terasa aneh dingin bercampur panas. Bahkan AC mobil terasa seperti tidak berfungsi. Aku sempat ingin melontarkan lelucon agar suasana mencair, tapi kuurungkan niat itu karena takut justru membuat suasana semakin tegang.
Begitu sampai di Palangkaraya, barulah temanku bercerita. Katanya, sejak awal ia sudah merasa merinding. Ia merasa tidak enak hati karena area bukit itu benar-benar dikelilingi hutan bambu. Di tanjakan kedua, ia bahkan sempat melihat seekor monyet, tapi setelah didekati ternyata hanya ranting kayu. Saat aku mengatakan pandanganku mulai menggelap, ia langsung mengajakku turun karena khawatir terjadi hal buruk.
Sepanjang jalan turun, katanya ia merasa suasananya ramai sekali, padahal jelas-jelas sepi. Bahkan ia selalu menoleh kebelakang, karena mereka ada yang melihat.
Hingga akhirnya kami sampai di rumah masing-masing tanpa terjadi apa pun. Kami berpamitan dengan mengucapkan, “Wassalamualaikum.”
Komentar
Posting Komentar