Ada masa dalam hidup seseorang ketika segalanya berjalan tidak sesuai rencana, tetapi justru di sanalah Tuhan menulis takdir yang paling indah, pelan, sederhana, dan penuh siratan makna. Banyak manusia mengatakan, nasib tak dapat diduga, takdir tak dapat diubah, tetapi doa bisa mengubah segalanya.
Sama halnya dengan Kanaya. Kini ia tengah berada di semester tujuh, menempuh pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta dengan jurusan Sastra Indonesia, jurusan yang bahkan tak pernah terlintas di pikirannya. Profesi dokter yang dulu selalu ia idam-idamkan harus ia ikhlaskan dengan berat hati. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya semasa SMA. Kanaya memang menyukai sastra, tapi yang benar-benar ia cintai adalah matematika. Namun, ia yakin Tuhan tidak membawanya sejauh ini untuk menjatuhkannya.
Tahun-tahun Kanaya terasa hampa dan monoton. Ia dianggap tidak memiliki prestasi akademik sama sekali. Ia sering kali diremehkan. Sejauh ini, ia hanya memiliki dua orang teman saja dan itu sudah cukup baginya. Dua tahun terakhir bagi Kanaya sungguh sangat menyakitkan, dimulai dari kondisi ekonomi keluarganya yang menurun hingga Kenneth yang menghilang dari hidupnya.
Setahun terakhir, ia tidak pernah lagi melihat wajah lelaki itu. Ia tidak tahu bagaimana kabar lelaki bermata indah nan teduh itu.
Bahkan Kanaya sepertinya sudah lupa bagaimana wangi tubuh lelaki itu, tinggi badannya, dan suaranya...
Setiap hari Kanaya membuka laman WhatsApp milik Kenneth, berharap ada pesan baru di sana, namun harapan itu selalu pupus.
Tiga tahun lalu, saat Kanaya menangis tersedu di hadapan Kenneth karena kembali tidak diterima di universitas impiannya, Kenneth menatapnya dengan mata yang sendu, lalu berkata hal-hal yang membuat hati Kanaya sedikit lebih ikhlas.
“Lagian kedokteran itu juga jelek, tahu, Nay. Di sana kuliahnya lama banget. Mending di Sastra Indonesia aja, kan? Cepat selesai, dan kamu juga bisa jadi pembawa acara di televisi atau bahkan menerbitkan buku dengan mudah. Nih ya, kata Noel juga, anak kedokteran itu songong-songong, nggak cocok deh sama kamu yang kalem dan baik. Nah, makanya Tuhan kasih hal yang lebih cocok sama passion kamu.”
Kurang lebih seperti itulah ucapan Kenneth kepada Kanaya. Tidak pernah sehari pun Kenneth absen datang ke rumah Kanaya. Bahkan saat Kanaya pindah dari rumahnya di Semarang ke Yogyakarta, Kenneth ikut serta.
Ayah Kanaya sempat berkata kepada Kenneth,
“Ken, kamu kan sudah sering ke Yogyakarta lomba band. Tolong bantuin Kanaya, ya. Om percaya sama kamu.”
Ayahnya sangat mempercayai Kenneth lebih dari kepercayaan kepada kakak Kanaya sendiri bila menyangkut Kanaya. Kenneth selalu ada untuknya di awal masa perkuliahan yang terasa berat dijalani. Ia bolak-balik Semarang–Yogyakarta setiap minggu karena sedang mengikuti tes masuk kepolisian. Ia masih berjuang demi impiannya itu.
Saat ospek, Kenneth bersikeras untuk menemaninya. Kanaya sudah melarang keras agar Kenneth tidak berangkat, tetapi Kenneth tetaplah Kenneth. Di tengah latihan dan les fisik untuk tes kepolisian, ia tetap menyempatkan diri datang ke Yogyakarta hanya untuk melihat Kanaya. Kenneth dan segala upayanya.
Kenneth ibarat baja, kuat dan kokoh. Kanaya jarang sekali melihat lelaki itu menangis atau mengeluh. Kalaupun mengeluh, paling hanya karena rumahnya sepi sebab kedua orang tua Kenneth adalah pebisnis. Ia anak lelaki bungsu dan satu-satunya di keluarga, sangat diharapkan oleh orang tuanya. Bahkan ibunya sering bercerita tentang harapannya pada Kenneth kepada Kanaya saat Natal. Kanaya paham betul bagaimana Kenneth memikul harapan orang tuanya dengan senyum dan doa.
Saat ospek, Kennethlah yang membantunya. Ospek fakultas di universitas Kanaya berbeda sekali dengan ospek SMA. Mahasiswa tidak diperbolehkan membawa uang jajan atau berbelanja di luar, mereka wajib membawa bekal dari rumah. Sialnya, pengumuman itu baru disebarkan pukul sembilan malam, saat Kanaya sudah tertidur. Ia baru membacanya pukul empat subuh ketika hendak salat.
Kanaya, ya Kanaya, hanya bisa menangis. Yang terlintas di pikirannya hanya Kenneth. Mendengar tangis Kanaya, Kenneth ikut panik. Kanaya bilang ia takut dihukum. Subuh itu juga, Kenneth berkeliling mencari warung yang sudah buka, menyiapkan bekal untuk Kanaya. Sekali lagi, Kenneth dan segala upayanya.
Kenneth sangat berjasa dalam hidup Kanaya. Saat Kanaya mengikuti ospek universitas secara daring bersama teman barunya pun, Kenneth turut serta.
“Mau lihat orang ospek juga, biar ngerasain,” katanya pada teman-teman Kanaya.
Pada semester awal, di bulan November, kampus Kanaya mengadakan pentas seni tahunan, pentas seni pertama dalam hidupnya. Sejak SMP, ia tidak pernah mengikuti pentas apa pun. Yang ia lakukan hanya belajar dan belajar.
Saat itu Kenneth sedang di Semarang, mengikuti tes fisik dari pagi hingga entah kapan selesai. Kanaya sudah memberitahu Kenneth agar tidak ke Yogyakarta, karena jaraknya jauh dan pentas seni itu diadakan setiap tahun. Lagi pula, tahun pertama ini Kanaya dan angkatannya hanya bernyanyi.
Namun Kenneth tetaplah Kenneth. Meski dilarang berkali-kali, ia tetap nekat berangkat dari Semarang ke Yogyakarta.
“Masa aku nggak datang, Nay? Ini pentas seni pertama kamu di kampus. Aku harus ada.”
Dengan suara lirih saat menyerahkan buket bunga, Kenneth berkata,
“Selamat ya, Nay. Semoga kamu betah di jurusan ini, dan semoga kamu selalu dikelilingi orang-orang baik.”
Sekali lagi, Kenneth dan segala upayanya.
Kanaya juga turut membantu Kenneth dalam proses pendaftarannya. Ia membantu mengajari Kenneth sepulang les, menulis surat-surat, bahkan sekadar membangunkan di pagi hari.
Hal yang paling Kanaya ingat ialah suatu malam saat Kenneth, lelaki sekuat baja itu, menangis. Menangis sesenggukan hingga napasnya tersengal. Malam itu, lelaki yang jarang mengeluh dan selalu tegar, gagal.
Ia gagal, dan malam itu ia menangis di hadapan Kanaya.
Hati Kanaya ikut hancur. Ia tahu betul betapa kerasnya Kenneth berjuang. Setiap kali bercerita tentang harapannya, mata yang bak bulan sabit itu selalu berbinar. Ia sangat mendambakan menjadi polisi.
Seminggu setelah itu, Kenneth menjadi lebih pendiam. Setiap kali diajak berbicara, baik secara langsung maupun lewat ponsel, tidak seperti dulu. Kanaya paham, ia tahu betul mengapa Kenneth begitu, karena ia sendiri pernah berada di posisi itu.
Kini Kenneth jarang ke Yogyakarta namun Kanayalah yang sering bolak-balik Yogyakarta–Semarang. Setiap pulang, mereka selalu pergi ke kantin SMA tempat mereka dulu berbagi cerita. Perlahan, ketika Kanaya memasuki akhir semester dua, Kenneth mulai berdamai dengan kegagalannya.
Kenneth mencoba lagi, karena yakin usaha tidak akan mengkhianati hasil. Saat itu, ayah Kanaya pernah berucap padanya,
“Beri dia ruang untuk sendiri, Kak.”
Kanaya tahu maksud ayahnya. Mungkin saja dirinya yang membuat fokus Kenneth terbelah, bukan?
Karena merasa hubungan mereka berjalan di tempat dan tak mungkin juga untuk bersatu, Kanaya dan Kenneth akhirnya memutuskan untuk berpisah. Kenneth sempat memberontak, tak terima Kanaya pergi, tapi karena ucapan Kanaya, ia berusaha melepas.
“Ken, kita tetap kita. Mau ada status atau tidak, aku akan terus ada untuk kamu. Kamulah kamuku, Ken.”
Kenneth kembali mengejar mimpinya. Semuanya sama, hanya Kanaya yang tak lagi di sisinya. Mereka masih berhubungan, tetapi jarang. Kali ini Kenneth memilih berkuliah di Semarang, jurusan Manajemen. Ia berharap hal itu bisa mengobati luka hatinya.
Kanaya tetap hadir di masa ospeknya, bahkan ia yang menulis papan nama dan topi untuk Kenneth. Hubungan mereka tetap hangat sebagai teman, tanpa status pacaran.
Selama setahun berkuliah, Kenneth tidak pernah tertarik dengan perempuan lain. Di pikirannya hanya bagaimana caranya untuk mencapai hal yang diimpikan. Tanpa Kanaya sadari, dialah sumber semangat Kenneth selama ini.
Dalam buku catatan yang diberikannya kepada Kenneth, berisi hal-hal indah yang membuat Kenneth terus bersemangat menjalani hari. Ke mana pun Kenneth pergi, buku itu selalu ia bawa. Saat latihan, tes, atau les.
Waktu berjalan. Di tahun kedua kuliah Kenenth, dan Kanaya saat ini Kanaya berada di semester lima. Kenneth hampir tidak pernah mendapat pesan dari Kanaya. Tapi ia bersyukur, akhirnya gadis itu berdamai dengan hidupnya. Kanaya mulai menikmati jurusannya, dan Kenneth memutuskan untuk mencoba lagi.
Kenneth kuliah sambil berlatih, berdoa, dan berharap. Kanaya hanya bisa mendukung dari jauh, lewat doa-doa yang tak pernah luput. Hingga suatu hari, kabar itu datang, Kenneth diterima sebagai Bintara TNI.
Kanaya tersenyum, bahagia dan haru di waktu yang sama. Saat teman-teman ramai menulis ucapan selamat di media sosial, Kanaya hanya diam, menatap layar tanpa berani menulis apa pun. Ia baru mengirim pesan empat hari kemudian, tepat pukul dua belas malam, karena merasa tidak layak muncul di puncak keberhasilan Kenneth.
“Kenneth, meski terlambat, selamat ya. Kamu keren. Kamu pantas dapat ini. Semoga kamu terus mendapatkan hal-hal baik di mana pun kamu berada. Semoga selalu dikelilingi orang baik, senantiasa bahagia, dan dikuatkan. Kamu keren sekali.”
Tanpa disangka, Kenneth membalas dengan cepat.
“Amin, makasih banyak ucapannya, doanya, dan makasih untuk segalanya, Nay."
"Nggak nyangka aku lulus, mungkin memang sudah takaran takdir dari Tuhan."
"Banyak makasih aku padamu, Naya."
"Semoga hal-hal baik juga selalu ada untuk kamu."
"Btw, aku di Bandung, daerah Cipatat."
"Nanti kalau aku cuti, ketemu ya, Nay? Kita cerita-cerita, hehe.”
Waktu mereka terbatas. Dua belas jam lagi, seluruh ponsel peserta harus dikumpulkan. Kenneth berharap Kanaya menulis lebih awal, agar mereka bisa berbicara lebih lama. Ia ingin sekali bercerita tentang segalanya, namun menahan diri, barangkali Kanaya sudah dekat dengan lelaki lain.
Padahal, bagaimanapun Kanaya berusaha melupakan Kenneth, hal itu tak mudah. Semua orang berkata,
“Kamu akan mendapat yang lebih dari Kenneth.”
Namun nyatanya, Kanaya selalu mencari sosok Kenneth di orang lain. Ia sering kali dekat dengan lelaki yang namanya mirip Kenneth, wajahnya mirip Kenneth, dan begitu seterusnya.
Setahun setelah mereka tak lagi berhubungan, Kenneth masih membuka laman pesan Kanaya, berharap suatu hari ada tulisan baru di sana.
Andai saja keduanya tahu isi hati masing-masing, mungkin pertemuan mereka akan bertahan lebih lama. Namun setelah percakapan terakhir di bulan Juli itu, tak ada kabar lagi.
Kanaya tak pernah meminta lebih kepada Tuhan. Melihat Kenneth bahagia sudah cukup baginya.
Ia teringat firman dalam Al-Qur’an yang mengatakan “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” Sedangkan Kenneth berpegang pada reinterpretasi dalam Alkitab “Kamu boleh mencintainya, tapi jangan ambil dia dari Tuhannya.”
Kini Kenneth berada di Cipatat dan belum pulang. Kanaya hanya bisa mengirimkan doa, agar lelaki itu pulang dalam keadaan utuh. Entah bagaimana maksud dan tujuan dunia mempertemukan mereka yang tidak bisa untuk hidup bersama.
Entah apa maksud dan tujuan dunia mempertemukan dua insan yang tak dapat hidup bersama. Semoga ketika Kenneth kembali nanti, Tuhan berkenan iba kepada mereka dan memberi jalan agar mereka dapat bersatu.
Jika takdir berkenan, mereka akan bertemu lagi. Di waktu yang lebih siap, dan hati yang lebih tenang.
Komentar
Posting Komentar