Kenneth dan Kanaya (1)

Kehidupan ini hanya sekali. Dalam singkatnya, setiap manusia pasti pernah merasakan kebahagiaan saat berjumpa dengan seseorang yang tak pernah benar-benar bisa digenggam. Ada pertemuan yang terasa begitu berarti, namun entah karena jarak, waktu, atau takdir, hubungan itu akhirnya hanya tinggal di ambang kenangan. Kebahagiaan semacam itu kadang hadir dengan cara paling sederhana, melalui senyuman, perhatian kecil, atau sekadar keberadaan di waktu yang tepat. Kanaya pernah merasakannya. Dan orang itu bernama Kenneth.

Kenneth adalah seorang lelaki ahli kitab yang berbudi baik, berperawakan tinggi, tampan, dan pandai memainkan piano. Saat di SMA, banyak yang menganggapnya culun, terlalu pendiam, atau menyerupai sosok “Stanley” dalam film-film remaja yang canggung, tenang, dan sulit ditebak. Ia jarang berbicara dan hanya memiliki satu sahabat dekat sejak SMP, bernama Lingga.

Sedangkan Kanaya adalah gadis yang terkenal di sekolahnya. Ia ramah, ceria, dan selalu menjadi pusat perhatian teman-temannya. Kanaya sama sekali tidak mengenal Kenneth, bahkan tidak tahu bahwa Kenneth ada, sampai akhirnya pada awal semester satu kelas sepuluh, Lingga dan Kanaya berpacaran.

Saat itu masa pandemi COVID-19, ketika seluruh kegiatan masyarakat dibatasi, termasuk kegiatan belajar mengajar. Di sekolah mereka, setiap kelas dibagi menjadi dua sesi, yaitu pagi dan sore. Sialnya, Kanaya dan Lingga terpisah dan justru Kanaya dan Kenneth yang satu sesi.

Kenneth dikenal cukup pintar di kelas, dan Kanaya mengakuinya. Namun saat itu Kenneth sangat pendiam dan tampak acuh terhadap orang-orang. Meski begitu, setiap pulang sekolah Kenneth selalu mengantar Kanaya, tentu atas permintaan Lingga.

Suatu hari Selasa, Kanaya dan Lingga bertengkar hebat karena masalah DM Instagram seorang laki-laki di akun Kanaya. Lingga yang posesif dan cemburuan marah besar. Sebagai seorang Aries, Kanaya tak mau kalah. Pertengkaran itu tak menemukan titik terang, dan Kenneth menjadi sasaran amarah Kanaya.

“Kamu bisa berhenti ngikutin aku nggak?” bentak Kanaya saat pulang sekolah.
“Kita pulang bareng, Nay,” jawab Kenneth dengan nada khasnya yang lembut.
“Aku nggak mau!” seru Kanaya.
“Hari sudah gelap, sebentar lagi hujan.”
“Kataku nggak mau ya nggak mau! Jangan maksa dong. Kamu ini mau juga disuruh-suruh Lingga, babu-nya kah kamu?”

Ucapan Kanaya yang tajam membuat Kenneth terdiam. Ia memilih pergi meninggalkannya.

Kanaya berjalan pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer. Dalam hati, ia berharap hujan turun setelah ia sampai rumah. Tapi seperti kata orang, hari sial tak pernah ada di kalender. Belum juga delapan ratus meter berjalan, hujan deras mengguyur. Ia mempercepat langkah, bahkan setengah berlari mencari tempat berteduh. Namun karena jalan licin, Kanaya tersungkur. Kakinya terluka dan sepatunya robek. Ia meringkuk di pinggir jalan, menangis dalam diam, bukan karena sakitnya luka, melainkan karena merasa hari itu begitu sial. Tak ada satu pun dari orang-orang yang lewat yang peduli, tak ada yang menawari tumpangan, bahkan sekadar bertanya kenapa ia menangis.

Tanpa disadari, dari warung tak jauh dari sana, seseorang baru saja memarkirkan motornya, mengambil payung, lalu berjalan ke arah Kanaya. Ia iba pada gadis itu. Dan orang itu adalah Kenneth. Ia memang mengikuti Kanaya dari kejauhan karena tak tega membiarkannya berjalan sendirian sejauh itu. Bahkan saat Kanaya menggerutu di jalan pun, suaranya terdengar oleh Kenneth. Ia melihat semuanya mulai Kanaya berlari, terjatuh, lalu menangis.

“Yuk, malu diliatin orang. Kamu bukan gembel,” ucap Kenneth pelan.

Mendengar suara itu, Kanaya mendongak. Bukannya berhenti menangis, tangisnya justru pecah makin kencang. Bukan Kenneth yang ia harapkan muncul, tapi Lingga. Namun Kenneth tetap menarik tangannya, memayunginya, dan membawanya berteduh di warung.

Sejak hari itu, hubungan mereka semakin dekat, sebagai teman. Mereka juga tergabung dalam kelompok belajar yang sama. Saat itu hubungan Kanaya dan Lingga masih berjalan dengan baik. Semester awal kelas sepuluh terasa sangat menyenangkan bagi anak-anak baru itu.

Memasuki semester dua, Kanaya mulai aktif mengikuti perlombaan, baik internal maupun eksternal. Ia beberapa kali menjadi juara olimpiade matematika, baik secara individu maupun bersama partner-nya, Janur. Janur berasal dari kelas lain, tidak sekelas dengan Kanaya, Lingga, maupun Kenneth. Karena kesibukan lomba dan sesi sekolah yang berbeda, Kanaya dan Lingga jarang bertemu. Kanaya lebih sering belajar bersama Janur hingga gosip pun bermunculan.

Suatu kesalahpahaman membuat hubungan mereka retak. Lingga menolak mendengar penjelasan apa pun, menatap Kanaya dengan kebencian yang dingin. Dalam kebingungan itu, satu-satunya orang yang terpikir oleh Kanaya hanyalah Kenneth. Ia meminta bantuan Kenneth untuk menjadi jembatan agar Lingga mau mendengar penjelasannya. Setidaknya tau mengapa masalah itu bisa muncul. Kenneth yang berhati lembut menuruti permintaannya. Ia bahkan membawa Lingga ke rumah Kanaya saat hari raya besar. Namun hasilnya tak seperti harapan. Lingga justru semakin marah, dan hubungan persahabatan antara Lingga dan Kenneth pun ikut renggang.

Kenneth yang iba melihat Kanaya terluka akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat Kanaya memutuskan untuk merelakan hubungan singkatnya dengan Lingga. Sejak saat itu, Kenneth dan Kanaya semakin dekat. Mereka berteman, berbagi cerita, saling mendukung. Dalam percakapan ringan, Kanaya tahu bahwa Kenneth bergabung dengan band sekolah dan menyukai seorang gadis bernama Riska, teman sekelas mereka yang juga ahli kitab. Kenneth sering bercerita tentang Riska dan hal-hal kecil yang ia kagumi darinya. Sebagai teman baik, Kanaya membantu Kenneth mendekatinya. Namun semua usaha itu sia-sia karena Riska sudah memiliki seseorang dari gerejanya. Kisah cinta mereka pun kandas.

Naik ke kelas berikutnya, mereka makin sering bertemu karena aktif di berbagai kegiatan sekolah. Kenneth yang saat itu menjadi ketua band sangat bahagia, sementara Kanaya semakin sibuk dengan lomba-lomba akademik. Mereka juga sama-sama terpilih menjadi paskibraka 17 Agustus bersama Lingga. Meski Lingga dan Kenneth kembali berteman, hubungan Lingga dan Kanaya tetap dingin, mereka berbicara seperlunya saja.

Hari demi hari, kedekatan Kenneth dan Kanaya makin erat. Mereka bergabung di OSIS, masuk Bantars bersama, dan hampir semua kegiatan sekolah mereka ikuti. Meski berbeda bidang, Kenneth di seni musik, Kanaya di matematika dan sastra, perbedaan itu justru membuat mereka saling melengkapi. Mereka sering bekerja sama membuat makalah, menyusun proposal, atau belajar di perpustakaan, meski biasanya Kenneth tertidur di tengahnya. Kini Kanaya mengikuti lomba solo karena partner-nya, Janur, menghilang entah ke mana.

Di sela-sela kesibukan itu, mereka saling bercerita tentang rencana masa depan. Kenneth ingin menjadi polisi, sementara Kanaya bercita-cita menjadi dokter. Dari situlah, Kanaya mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar kagum. Sejak hari itu, hal-hal kecil dari Kenneth menjadi sumber hangat di hatinya.

Hingga akhirnya Kenneth menyatakan perasaan. Ia melakukannya lewat tautan yang dikirim malam hari karena malu. Tapi cara Kenneth begitu manis. Pernah, di pagi buta, ia berkeliling kampung mencari warung yang masih buka hanya untuk membelikan cokelat. Pernah pula, ketika adik kelas memberi Kanaya makanan, Kenneth dengan santai berkata, “Nanti makan siang sama aku saja, ya,” lalu mengembalikan makanan itu pada pemberinya.

Sikap-sikap kecil itu membuat Kanaya bertanya dalam hati, apakah ia dan Kenneth akan bertahan lama.

Masa pandemi COVID-19 akhirnya berakhir, bersamaan dengan berakhirnya sistem sesi pembelajaran. Kanaya dan Lingga sudah berdamai dengan diri masing-masing. Mereka kini sama-sama punya teman berbagi cerita, Kenneth untuk Kanaya, dan Tari untuk Lingga. Saat mereka berempat berkumpul, pertanyaan lama Kanaya akhirnya terjawab, apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Lingga memutuskan hubungan itu.

Lingga menjelaskan bahwa Janur sering menghubunginya, menuduh Kanaya sering menempel padanya, mengajaknya ke mall, bahkan menonton bioskop bersama. Ia juga mengirim foto Kanaya yang tertidur di perpustakaan, sambil berkata, “Kayaknya Naya udah nyaman sama aku.”

Mereka bertiga terkejut. Janur yang tampak polos ternyata memiliki sisi gelap. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Janur adalah seorang pedofil. Ia sering memacari anak-anak SD dan merayu mereka hingga mengirimkan foto tak senonoh. Selama semester dua kelas sebelas, ia menghilang karena ditahan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak atas kasus pemerasan dengan foto.

Manusia memang sulit ditebak, bahkan orang yang kita anggap paling kita kenal pun bisa berubah.

Waktu berjalan cepat. Tahun terakhir di SMA pun tiba. Karena aktif di banyak kegiatan, Kanaya dipercaya menjadi ketua panitia kelulusan, sementara Kenneth mempersiapkan penampilan besar band-nya untuk acara perpisahan.

Hubungan mereka sangat dekat. Saat Natal tiba, Kenneth mengajak Kanaya ke rumahnya untuk bertemu orang tuanya. Keluarga Kenneth menyambut hangat, bahkan mengajaknya menghias pohon Natal dan berkunjung ke rumah saudara. Sebaliknya, Kenneth pun diterima baik oleh keluarga Kanaya. Namun suatu hari, ayah Kanaya berkata pelan, 
“Dia memang anak yang baik, Kak. Tapi kamu harus tahu, dinding kalian sangat tinggi. Ayah tidak melarang, tapi ayah tahu kamu sudah besar, sudah tahu kapan saatnya mengakhiri semua.”

Meski keluarga Kanaya sangat religius, ayahnya dan Kenneth tetap akrab, sering berbincang soal musik dan bahkan kebun sawit. Ayah Kanaya bahkan percaya, Kenneth adalah orang yang bisa ia titipkan putrinya ketika berada di luar rumah.

Suatu hari di bulan Maret, Kanaya yang dikenal ambisius dan selalu menjadi peringkat satu angkatan gagal lolos seleksi SNBP. Libra, teman seangkatannya, mengejek tanpa belas kasihan. “Kok bisa nggak keterima sih, Kanaya? Katanya pinter banget?”

Ucapan itu menampar harga dirinya. Ia terdiam, menahan malu dan kecewa. Namun di sampingnya, Kenneth berkata lembut, “Jangan dengarkan dia. Apakah semua hal di dunia ini harus berjalan sesuai rencana?”

Ia menyuruh Libra pergi, lalu membelikan Kanaya cokelat kesukaannya, Dairy Milk. “Jangan samakan prosesmu dengan orang lain,” katanya. “Tuhan punya cara sendiri untuk menunjukkan kebahagiaan.”

Kalimat itu menenangkan hati Kanaya lebih dari apa pun.

Menjelang kelulusan, tugas panitia menumpuk. Kenneth sibuk latihan band, Kanaya sibuk mengurus logistik. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Leo, anggota cadangan band Kenneth, menegur Kanaya dengan kasar. “Ketua panitia nggak becus! Lihat, bajunya berantakan!”
“Kalau membagi baju angkatan, tunggu orangnya datang dulu baru dibagi.”
“KALAU NGGAK BISA NGEHANDLE, MENDING CABUT AJA JADI KETUA! DASAR NGGAK BERGUNA!”

Tak ada yang membela, bahkan sahabatnya sendiri. Kanaya berdiri seorang diri, berusaha membereskan semuanya dengan tangan gemetar. Hingga malam itu, di tengah perdebatan di grup panitia, Kenneth muncul dan menulis pesan pendek, “Ini bukan cuma acaranya dia. Ini acara kita semua. Jangan menitikberatkan kesalahan pada satu orang.”

Kalimat itu membuat dada Kanaya bergetar. Ia merasa dilindungi.
Keesokan harinya, Kenneth menemaninya berbelanja perlengkapan ke kota, mengantarnya pulang, bahkan ikut berbuka puasa bersamanya. Sore itu, di bawah langit jingga, Kanaya merasa diperhatikan dengan cara yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tatapan Kenneth yang lembut, senyum kecilnya, semua itu meninggalkan jejak di hatinya.

Di perjalanan, mereka berbicara tentang masa depan. Kanaya mendengarkan Kenneth dengan bangga. Lelaki yang dulu pendiam dan dianggap culun kini tumbuh menjadi sosok dewasa, berwawasan, dan disukai banyak orang. Ia benar-benar bangga padanya.

Hingga akhirnya hari kelulusan tiba. Kanaya membacakan pidato terakhir angkatan mereka, sementara Kenneth menatap dari kejauhan dengan bangga. Ia mengabadikan setiap momen tentang Kanaya, berharap hubungan mereka bisa bertahan lama, selamanya.

Di akhir acara, saat pertukaran kado, Kenneth memberikan buket bunga pada Kanaya, dan Kanaya memberikan sebuah buku catatan kecil berisi foto, tulisan, dan doa. Namun di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat yang kelak menjadi penyesalannya.



Komentar