Banyak orang mengatakan,
"Kita akan menemukan orang yang tepat, entah saat berbelanja di super market dengan tidak sengaja atau bahkan saat kamu merantau ke luar kota."
Bagi Kenneth semua itu omong kosong, sudah setahun lebih dia tidak bertemu dengan wanita itu. Tidak mendengar dengan yappingan wanita itu, bagaimana wanginya, bagaimana indah suaranya saat membacakan puisi buatan nya dan bahkan enaknya makanan buatan wanita itu.
Sudah enam bulan dia tidak memegang ponsel, apakah wanita itu mencarinya? atau malah dia tidak ingat bahwa Kenneth ada dibelahan lain dari bumi ini? Kenneth selalu saja berucap tanpa disadari olehnya,
"semoga dia gak jatuh cinta sama orang lain dulu, semoga tuhan tidak mempersulit interaksi yang sudah sulit ini. semoga dia masih sendiri saat aku pulang nanti."
Padahal dia selalu mendoakan kebahagiaan Kanaya, tapi tidak salah kan jika dia meminta seperti itu?
Tidak semua cerita perlu diulang dengan akhir yang sama, Kenenth ingin saat kembali nanti memulai semuanya dari awal. Dia dan Kanaya. Tidak tau nantinya seperti apa, semoga saja Tuhan memberikan iba nya pada mereka.
Bandung. Tempat yang selalu Kanaya sukai. Dan Kawah Putih adalah tempat yang selalu wanita itu ingin datangi.
Jarak Bandung-Yogyakarta memang relatif dekat, dan bisa saja Kenneth kesana jika ingin. Namun, dirinya selalu terhalang oleh perwira nya.
Ingin sekali dia menceritakan semua hal yang terjadi pada dirinya di sini. Bagaimana kondisi tempat latihan mereka, tempat tidur, makanan dan orang-orang yang ia temui. Namun waktu itu, karena terbatasnya waktu, dia hanya dapat bercerita sedikit. Beribu kali Kenneth mengucapkan terimakasih pada Kanaya. Menurutnya, hanya wanita itulah yang tidak pernah bosan berhenti percaya pada potensi Kenneth. Meski dirinya sekarang diterima menjadi seorang prajurit bukan aparat. Tidak apa-apa. Terkadang takdir memang selalu meleset kan dari harapan manusia?
Lagi-lagi dirinya hanya memiliki satu orang teman saja. Jesen. Orang dari Kalimantan. Awalnya Jesen sering di ejek, karena badannya yang kurus. Kenneth lah yang pertama kali memberi uluran tangan saat dia dipukuli di barak. Lagi-lagi, orang-orang akan berkumpul dengan mereka yang sewatak.
Dua minggu lagi, Kenneth akan pulang Ke Yogyakarta. Banyak keluarganya yang menanti disana, ia harap sebelum Natal tiba, pengumuman tentang cuti sudah keluar. Ia menikmati kehidupan di barak dan pangkalan militer, namun bohong jika ia tidak merindukan rumah.
Hari-hari Kenneth selalu dimulai sangat dini, biasanya tepat pukul 04.00 pagi. Suara peluit atau sirene keras memecah keheningan barak tempat dirinya beristirahat, menandakan waktu bangun. Mereka hanya punya waktu hitungan menit untuk mandi, berpakaian, dan merapikan tempat tidur yang harus memenuhi standar kerapian militer (misalnya, lipatan selimut harus siku dan rapi). Setiap keterlambatan atau ketidakrapihan berarti hukuman, seringkali berupa lari keliling lapangan atau push-up bersama satu pleton. Bahkan Kenneth pernah diperlakukan tidak adil, hingga kesulitan berjalan. Jadwal makan, ibadah, kelas teori, dan latihan fisik semua terpatok ketat tanpa toleransi dan hal itu ia syukuri, karena sekarang ia berdiri diatas doa-doa yang ia panjatkan sebelumnya.
Dibarak privasi hampir tidak ada. Mereka tinggal di barak besar, tidur di ranjang susun, dan semua fasilitas digunakan bersama. Makanan disajikan sederhana, cukup bergizi dengan porsi besar, namun harus dihabiskan dalam waktu singkat. Komunikasi dengan keluarga sangat dibatasi, dan bahkan Kenneth selama di sini tidak pernah menghubungi keluarga, ponselnya disita saat masuk pendidikan. Keterbatasan ini memaksa mereka untuk membangun ikatan yang sangat kuat dengan rekan-rekan seangkatannya. Mereka mengalami kesulitan yang sama, dihukum bersama, dan saling mendukung satu sama lain. Jiwa korsa inilah yang menjadi fondasi loyalitas mereka sebagai satu kesatuan tim.
Kondisi nyata pelatihan di pangkalan militer sangat terstruktur, keras, dan intensif. Mereka para Casis hidup dalam lingkungan yang sangat berbeda dari kehidupan sipil biasa, di mana setiap aspek kehidupan diatur dengan disiplin tinggi.
Hari ini, ponsel mereka dibagikan. Karena enam hari terhitung dari sekarang adalah acara puncak mereka. Proses pembaretan. Hal yang paling dirinya tunggu-tunggu, akhirnya Tuhan memberikan tempat untuknya. Meski berbeda dengan doanya, setidaknya tuhan pasti memberikan hal yang paling baik untuknya.
Surat undangan untuk keluarga sudah keluar. Saat pertama kali memegang ponsel, Kenneth hampir lupa cara menggunakannya. Ponsel itu terbuka, banyak pesan masuk, dari orang tuanya, kakaknya, teman-teman yang menanyakan kemana dia, grup kelas, dan Kanaya.
Hanya ada tiga pesan dari wanita itu,
"semangat yaaaaa ken, sehat sehatt"
"kenn, sehattt kah?
gada yg jahatin kmu kan?"
"stay safe ken, di sana pasti ricuh sekali. i hope u always healthy."
Dan semua pesan itu, dikirimkan saat Indonesia sedang ricuh kala itu. Kenneth lega, ternyata ada sedikit ruang khawatir untuk Kenneth di hati Kanaya.
Ia mulai dengan menghubungi orang tuanya, kakaknya. Tidak sabar melihat ekspresi ibunya.
"Bu, Sabtu depan aku dilantik. Datang ya bu, bilang dengan Kak Kinal." Katanya di telpon.
Ibu dan Ayahnya yang mendengar itu sangat bahagia, berkali-kali lipat. Akhirnya putra bungsu mereka, menjadi hal yang dia dinginkan. Banyak hal yang Kenenth bicarakan pada orang tuanya, sore itu terasa begitu menyenangkan. Ia bercerita dengan sangat asyik pada orang tuanya, sampai lupa bahwa ada seorang gadis yang gelisah melihat laman chat seseorang sudah ceklis dua.
Raut wajah Kenneth yang awal nya girang perlahan berubah dan nafas yang berhembus dengan berat.
"Tapi nak, kami sedang berada di Singapore. Kakakmu ingin melahirkan dan tidak mau ditinggal. Nanti ibu minta Tante Ana aja ya yang datang."
Selalu saja, Kenneth yang mengalah untuk kakak perempuannya itu. Tidak apa. Sendiri pun Kenneth tidak masalah, toh sedari kecil juga mereka selalu dan selalu jarang dirumah, kecuali di hari Natal saja. Dan untuk kehadiran Tante Ana, Kenneth menolaknya.
Seluruh prajurit yang seangkatan dengannya ramai membincangkan tentang keluarga mereka yang ingin datang. Ditelepon, mereka membahas pakaian yang dikenakan nanti, kemana jalan-jalan untuk merayakan anaknya, atau sekedar bertanya makanan apa yang ingin dibawakan nanti.
Kenneth turut bahagia mendengarnya, apalagi temannya Jesen. Keluarga besarnya akan datang semua, mulai dari Kakek, Nenek bahkan om dan tantenya.
"Tidak apa Ken, kamu sudah hebat sekali" ucapnya sendiri, menguatkan diri.
Sekarang dia tengah berbaring di samping danau kecil dekat barak mereka, memandang langit malam yang cerah, seolah meledek keadaan Kenneth sekarang, hingga akhirnya tertidur.
Dia terbangun karena ada satu notif chat, prajurit memang harus peka. Di sela kantuknya, dia membuka ponsel itu, membaca nama orang yang mengirimi pesan.
"Hai Ken,
aku dengar sebentar lagi kamu pelantikan dari Tante. Selamat ya Ken, semoga perjalanan selanjutnya lebih menyenangkan."
Kanaya. Nama pengirim pesan itu. Kenneth sontak tersenyum, dan pesan itu baru saja dikirim. pukul 10 malam. Kenneth lupa menghubungi wanita itu. Lupa membalas pesan nya. Tanpa pikir panjang, Kenneth memencet tombol telepon. Saat suara dari dalam ponsel Kenneth terdengar, dirinya sedikit gugup ingin berkata apa.
"Halo, Kenneth?" ucap suara diseberang sana.
"Hai, Nay. Gimana kabarnya? aku disini sehat sekali, tidak ada yang jahat, aku juga mempunyai satu orang teman. Ya walaupun senior ku disini sedikit menyebalkan, tapi tak apa. aku senang sekali. kamu gimana?"
Dimalam yang menjelang dini hari, mereka habiskan dengan Kenneth yang bercerita tentang semuanya. Mulai dari Jesen temannya, seniornya, kondisi barak, semuanya. Dan akhirnya,
"Nay, jika berkenan datang ya Sabtu depan. Aku tidak memaksa."
Dan akhirnya, Sabtu itu Naya datang. Hadir dalam moment bahagia Kenenth, menyaksikan lelaki itu dipasangkan baret dan semuanya. Hari itu semua terasa menyenangkan bagi Kenneth, orang tuanya memang tidak dapat hadir, namun semesta mengirimkan yang lain, Kanaya.
Hari itu, Kenneth tidak dapat langsung pulang, masih ada waktu seminggu untuk dirinya benar-bener bisa cuti sebentar sebelum ditugaskan. Kenneth mengajak Kanaya berkeliling tempat nya dilatih, kebarak dan kedanau yang sering menjadi tempat nya bercerita pada Tuhan setelah seharian tuntas. Kanaya mendengarkan semua hal yang Kenneth bicarakan, tanpa ada sedikitpun yang ia tidak dengarkan. Terkadang ia mengambil gambar lelaki itu dari samping, mendengar lelaki itu memainkan gitar, menulis puisi dan dibacakan bersama. Semua mereka lakukan hari itu. Pukul delapan malam Kanaya pulang ke Yogyakarta, dijemput Jenna teman kuliahnya. Sebelum pulang Kenneth berkata.
"Tunggu aku ya Nay, sebentar lagi aku pulang dan akan kerumahmu."
Entah apa maksud dan tujuan Kenneth, dirinya sendiri pun tidak mengerti. Kalimat itu terucap begitu saja dari mulutnya. Dan Kanaya hanya bisa menanggapi dengan tersenyum.
Seminggu itu Kenneth sangat sibuk dan lagi-lagi dia jarang membuka ponsel, dia bukan sibuk latihan. Tapi sibuk mengurus pemberkasan. Kenneth ditugaskan di perbatasan, Kalimantan Barat-Malaysia. Kenneth hanya diberikan waktu cuti selama dua minggu saja, dan setelahnya tidak mendapat cuti kembali selama paling cepat sembilan bulan dan kalau ada kendala mendesak mereka bisa sama sekali tidak dapat cuti.
Setelah selesai mengurus pemberkasan itu, Kenneth akhirnya pulang. Tapi dia tidak langsung ke Semarang, dia berangkat ke Singapura terlebih dulu untuk melihat kondisi kakaknya yang baru saja melahirkan, dan disana ada orang tuanya. Mereka rencananya ingin berfoto bersama. Bagaimana pun mereka tetap keluarga Kenneth. Seminggu lebih Kenenth habiskan waktunya disana, dan kebetulan sehari setelah Kenneth berangkat adalah hari Natal, ini pertama kalinya dia merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarganya di luar negeri.
tanggal tiga Januari, Kenneth akhirnya pulang ke Semarang dan di tanggal delapan nanti dia sudah harus berangkat ke Kalimantan Barat. Sesampainya di Semarang, orang yang pertama di temuinya adalah Kanaya dan Keluarganya. Saat itu Kanaya sudah semester delapan dan sedang berada dirumah. Ayah Kanaya sangat terkejut melihat Kenneth. Dia sangat berubah, dari segi badan, cara berjalan bahkan cara bicaranya terasa berbeda bagi ayah Kanaya. Saat Kenneth di persilahkan masuk, dia disambut dengan hangat. Ayah memanggil Kanaya yang tengah berada dikamar lalu mengajak Kanaya bicara sebentar.
Kenneth dirumah Kanaya hampir seharian tuntas, ia tidak merasa bosan dan suntuk sama sekali. Malahan dia merindukan keluarga gadisnya itu. Ayah mengajak Kenneth bermain catur hingga dini hari, dan mengajak Kenneth bermalam.
Paginya ayah dan Kenneth bak seperti ayah dan anaknya. Pagi-pagi sekali dia melihat pemandangan yang menyejukkan hati, dimana dua lelaki itu tertidur diruang tamu dengan televisi yang menyala dan ayah tidur dengan memeluk Kenneth.
"Lucu sekali." gumam Kanaya.
Hari itu, keluarga Kanaya mengajak Kenneth untuk makan diluar. Tuhan Kenneth sangat bahagia hari itu. Kenneth bermalam satu hari lagi dirumah Kanaya, dan satu hari lagi, hingga hari ini adalah hari terakhir Kenneth sebelum berangkat. Keluarga Kanaya tetap memintanya untuk tetap bermalam. Seperti suami Kanaya saya ya Kenneth. Dihari terakhir ini, Kanaya dan Kenneth hanya berjalan berdua saja. Mereka keliling Semarang dengan motor lama Kenenth yang mereka pakai sewaktu SMA dulu, bernama komo. Mereka pergi ke kantin sekolah, ke taman, sorenya ke pantai , dan malamnya ke pasar malam. hari itu memang mereka habiskan dengan sangat indah dan bahagia.
Hari-hari berada dirumah keluarga Kanaya terasa lebih menyenangkan ketimbang saat dia bersama keluarganya di Singapura.
Hari yang sebenarnya Kenneth harap sedikit lama lagi datang. Hari ini ditanggal delapan Januari dia berangkat di antar keluarga Kanaya. Kenneth nantinya akan menghabiskan sekitar tujuh jam perjalanan menuju Bandar Udara Internasional Supadio Pontianak dengan transit terlebih dahulu di Surabaya.
Sebelum mereka berangkat, ayah sempat berpesan pada Kanaya.
"Kak, sebaiknya cepet kamu beritahukan. Kasian dia."
Saat sebentar lagi Kenneth hendak menaiki pesawat, Kanaya memeluknya dengan tangis perpisahan dan memberikannya sepucuk surat dengan box yang berisi foto-foto mereka, mulai dari saat Kenneth upacara pembaretan, saat mereka jalan-jalan keluarga, dipantai, dan bahkan di pasar malam. Kenneth hanya tersenyum melihat Kanaya, tidak sabar rasanya menunggu cuti selanjutnya lagi.
Didalam pesawat, Kenneth mengambil sepucuk surat yang diberikan Kanaya tadi. Perlahan, ia membacanya.
Semarang, 7 Januari 2025.
Kenneth adalah orang yang tidak pernah sama sekali terlintas dipikiranku akan menjadi bagian penting dari hidupku. Hadirnya yang dulu seperti tak terlihat membuat ku berpikir tidak mungkin orang ini bisa menjadi kekasihku. Tapi ternyata aku salah, dari sekian banyaknya lelaki yang aku temui, tidak ada yang seperti Kenneth. Kenneth sungguh berbeda, dia seperti jawaban dari doa-doaku pada tuhan. Dia benar-benar type ku, dengan agama yang berbeda denganku. Aku adalah anak keras kepala yang menjadi api di hubungan kami, namun baiknya Kenneth adalah airnya.
Aku selalu bangga terhadap setiap proses yang kamu lalui Ken, ibarat gak ada satupun orang yang ngasih apresiasi ke kamu. aku akan selalu jadi orang yang akan teriak "i'm so proud of u" dengan kencang ke kamu Ken. Aku selalu tau bagaimana bahagia nya kamu mendapat hal yang kamu ingin kan sejak lama ini, meskipun tidak sama tapi mirip.
selama kamu disana, aku senang bisa melihatmu dari jarak yang paling jauh, melihatmu mencapai tujuanmu, melihatmu berproses, dan mendoakan dari sisi bumi yang tidak terlihat darimu. senang atas senangmu juga itu saja sudah cukup bagiku.
semoga semua darimu, tidak ada kekurangan apapun dan semoga tuhan mengizinkan kita bertemu lagi.
selamat berproses yaa, i will always suppor you from afar.
selama setahun terakhir kita yang tidak pernah bertemu itu, aku seperti mayat kata orang-orang. kerap kali aku menyalahkan diriku sendiri atas apa yang menimpa kamu dan hubungan kita. aku kerap menangis sendiri di perpustakaan lalu kembali tertawa lagi saat masuk kelas. bahkan setiap mendengar kabar kamu diterima di Bintara TNI, aku takut menghubungimu, takut dianggap aku hanya ada saat saat masa suksesmu saja. Makanya setelah empat hari, baru aku mengetik pesan selamat.
Selama itu, ada beberapa orang yang dikenalkan orang tuaku ke aku. Semuanya berbeda denganmu dan pastinya selera humor nya berbeda denganku. Ada yang ternyata penyuka sesama jenis dan bahkan ada yang ternyata ada yang duda beranak satu.
sampai di hari raya idul adha kemarin, aku bertemu dengan salah satu anak dari teman ibu. namanya, Keanu. namanya hampir mirip dengan kamu, bukan cuman perawakan tapi nama panggilannya juga, tanpa dijodohkan aku tertarik dengannya dan ternyata dia juga tertarik padaku.
Kami cukup sering bertemu setelah itu, sengaja dan tidak disengaja. Ternyata dia adalah seorang dokter di salah satu rumah sakit tempat ibunya Venove dirawat, dan aku yang sering kesana ternyata sekarang lebih sering bertemu dengannya.
Pandangannya tentang masa depan seperti kamu Ken, walau jelas ada perbedaan juga. Kedua orang tua kami sangat suka dengan kedekatan ini. Di bulan Oktober kemarin dia mengajakku untuk bertunangan, aku sedikit ragu dan terus kepikiran akan kamu. Tapi selama satu Minggu aku berpikir dan minta jalan keluar dengan tuhan, mau bagaimana pun kita saling mencintai kita tidak akan pernah bisa sama sama untuk selamanya Ken. Tuhan tidak memberikan ibanya pada kita. Tembok kita terlalu tinggi Ken. Aku sudah menceritakan semua tentang kamu kepadanya, dan dia siap menunggu katanya. Akhirnya aku menerima dia, menjadi bagian baru dari hidupku.
Sedari awal pertemuan kita saat pelantikanmu, aku ingin memberi tahu. Tapi saat itu kamu terlihat sangat bahagia dan aku tidak ingin mengacaukan komen itu, karena aku tahu betul bagaimana inginnya dan bagaimana perjuangan mu sampai berada dititik sekarang.
Ken, asal kamu tau. Bagaimana pun aku berusaha keras untuk melupakan kamu. Selalu ada ruang untukmu dihatiku, meski tidak sama seperti dulu.
Maafkan aku Ken, semoga hidupmu diberikan hal-hal indah yang terus menerus hadir.
Love, Kanaya.
Bagaikan pohon disambar petir, harapan akan hidup bersama Kanaya kedepannya pupus. Ia tau, ia tidak menyalahkan pilihan wanita itu, karena sadar juga akan perbedaan mereka. Sekali lagi, semesta mengajak Kenneth bercanda, semesta meruntuhkan segala angan yang dibuat Kenneth dan Kanaya.
Kanaya sejak awal memang ingin memberitahukan hubungannya dengan Kenneth, tapi tidak bisa. Tidak sampai hati dia melihat lelaki itu kembali terluka akibat dirinya.
Enam bulan setelah keberangkatan Kenenth ke Kalimantan Barat, sama sekali tidak ada pesan dari Kanaya. Hanya pesan yang ia terima dari Ayah Kanaya yang menganggapnya anak saja. Sekali lagi Kenneth tidak menyalahkan Kanaya dan keluarga atas sakit yang ia alami sekarang. Kenneth sakit karena harapannya sendiri.
Sore itu, Kenenth melihat postingan yang dibagikan ulang Kanaya di Instagram. Foto dirinya yang sedang wisuda, bersama lelaki itu. Keanu. Walaupun akhirnya sesakit ini, tapi Kenneth tau dia anak perempuan yg pantang menyerah , dia anak yang sangat baik hati, bahkan selama mereka bersama, dia selalu menjadi hal yang Kenneth banggakan. Dia anak yang tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun. Dia anak yang selalu mendahulukan kepentingan orang yang dia sayangi dibanding dirinya sendiri, walaupun bukan Kenneth lagi yang menemani hari-harinya, semoga dia mendapatkan kasih sayang yang layak dari lelaki pilihannya, semoga lelaki pilihannya tidak menyakiti hatinya sedikitpun tidak membuat dia merasa kurang atas dirinya sendiri, dan yang terpenting semoga lelaki itu bisa mengerti situasi dan kondisi apapun nanti yang terjadi kedepannya. Kenenth harap Kanaya selalu diberikan kebahagiaan selayaknya dulu la pemah memberi Kenneth kebahagiaan sebelum akhimya mereka benar benar selesai.
Pada akhirnya, mereka yang berbeda selalu menemukan cara untuk bahagia sendiri.
Setelah, lima tahun berlalu dengan rasa sakit sekaligus haru bahagia. Akhirnya Kenenth menemukan orang yang dikirimkan Tuhan itu. Namanya Leya, dan tahun depan mereka akan menikah.
Kanaya dan Keanu, dikabarkan sudah menikah tahun lalu. Kenneth tidak hadir, waktu itu. Dia hanya melihat foto pernikahan itu di grup alumni mereka. Dua Minggu yang lalu, kedua pasangan itu bertemu di sebuah objek wisata di Yogyakarta, Malioboro. Tempat Kenenth dan Kanaya dulu menghabiskan waktu. Mereka kembali ketempat itu dan dengan pasangan masing-masing, mereka bertegur sapa, mengenalkan pasangannya, dan bahkan makan malam bersama. Mereka sudah berdamai dengan diri masing-masing.
Perihal atas semua yang hilang, tuhan pasti mengganti yang baik menjadi lebih baik.
Konon pertemuan dua pasangan itu disaksikan oleh Gaitonde
BalasHapus