Dia mengucapkan dua hal. Pertama, janji akan pulang dengan cepat lalu menikahi wanita itu. Kedua, janji akan mencintai wanita untuk selamanya. Tapi, semesta memang gemar melawak dengan mereka yang tengah jatuh hati. Pria itu hanya di ijinkan semesta untuk menepati yang kedua saja. Mencintai wanitanya untuk selamanya. Jaya hanya di ijinkan semesta untuk mencintai Sulastri, selamanya.
Jaya adalah salah satu dari ribuan pelajar dan mahasiswa Indonesia yang dikirim ke luar negeri, di negara Blok Timur, Cekoslowakia, Praha. Ketika peristiwa politik 1965 meletus di Indonesia dan situasi berubah drastis dengan naiknya rezim Orde Baru, mereka dihadapkan pada pilihan tidak manusiawi. Pemerintah baru di bawah Presiden Soeharto meminta para mahasiswa itu untuk menandatangani surat pernyataan yang pada intinya mengakui pemerintahan baru dan mencela pemerintahan sebelumnya dan yang terafiliasi dengan Soekarno atau dianggap "kiri". Mereka yang menolak atau dianggap terlibat dalam gerakan "kiri" secara otomatis kehilangan kewarganegaraan atau status WNI mereka dicabut.
Jaya dan beberapa mahasiswa lain memilih untuk tidak menandatangani pernyataan tersebut karena idealisme mereka pada pemerintah lama, dan karena takut akan keselamatan mereka jika kembali ke tanah air yang sedang bergejolak. Akibatnya, mereka menjadi tanpa kewarganegaraan (stateless) dan tidak bisa kembali ke Indonesia. Mereka terpaksa mencari suaka politik dan menetap di Praha selama puluhan tahun.
Karena hal itu Jaya memutuskan komunikasi dengan sanak saudara dan kekasih nya Sulastri. Saat kedua orang tuanya meninggal saja Jaya hanya mendapatkan kabar dengan dua kata "Ibu Sedo" "Bapa Sedo". Semua hal yang dirinya lakukan melalui banyak pertimbangan, salah satunya alasan mengapa dirinya baru mengabari Sulastri dua puluh tahun kemudian. Karena menurutnya, jika Sulastri diketahui oleh pemerintah memiliki hubungan asmara dengan dirinya yang dianggap komunis, hidup Sulastri yang pandai bermain piano itu akan hancur. Ia akan di penjara tanpa diadili. Makanya setelah dirasa situasi membaik, baru dia mengirimkan sepucuk demi sepucuk surat untuk Sulastri, surat yang tak pernah dibalas. Karena konon, jika dibalas surat itu tidak akan muncul lagi.
Tidak ada yang lebih Sulastri sukai dari suara tukang pos, ia selalu menantikan surat itu. Bahkan setelah dirinya sudah menikah dan meninggal, rasa cinta pada Jaya tidak pernah pupus.
Komentar
Posting Komentar