Pagi ini terasa benar-benar menyebalkan. Dari Rajawali aku berangkat dengan penuh semangat untuk mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif, mata kuliah yang tak ingin aku lewatkan sedikit pun materinya. Langit masih gelap dan hujan turun begitu deras, tapi aku tetap melaju dengan mantel tebal, menembus dingin dan genangan air di sepanjang jalan.
Beberapa kali aku melewati lampu merah yang sungguh sangat ramai, mencoba mencari jalan pintas agar tidak terlambat. Di tengah hujan yang seperti tak mau berhenti, aku hanya berpikir satu hal, “setidaknya aku tidak menyerah pagi ini.” Tapi takdir berkata lain. Setelah hampir basah kuyup, aku memutuskan untuk berteduh di pinggir jalan, tepat di dekat motorku yang juga mulai dingin karena hujan. Sudah dua puluh menit lamanya aku menunggu, berharap hujan reda agar bisa lanjut ke kampus.
Namun tiba-tiba, notifikasi grup kelas muncul di layar ponselku, pesan singkat tapi menohok “Bapak Indra tidak masuk hari ini.”
Aku hanya bisa terdiam. Antara ingin marah dan tertawa pahit, karena semua perjuangan pagi ini ternyata berakhir sia-sia. Tapi lalu aku sadar, tidak ada yang bisa disalahkan. Kadang hidup memang berjalan seperti ini, penuh kejutan, penuh ujian kesabaran kecil yang menguji seberapa kuat niat kita bertahan.
Aku menarik napas panjang, menatap jalan yang mulai tenang setelah hujan reda sedikit. Dalam hati aku berbisik, “Mungkin bukan ilmu di kelas yang harus kupelajari hari ini, tapi ilmu tentang ikhlas dan sabar.”
Toh, setiap langkah yang kita ambil, bahkan yang terasa sia-sia sekalipun, selalu punya arti dalam perjalanan menuju kedewasaan.
Komentar
Posting Komentar