Pihak sekolah mengatakan guru itu cuma menindaklanjuti laporan yang diterima. Tapi dari sisi keluarga, sang ibu, Yunita, yang dimana seorang tiktokers tidak terima. Ia mengatakan anaknya tidak pernah terlibat narkoba sama sekali. Bahkan karena tuduhan itu, si anak jadi tertekan, enggan ke sekolah, dan sering dirundung teman-temannya. Kasihan, bukan?
Untuk membuktikan, sang ibu langsung membawa anaknya tes urine ke RS Bhayangkara Palembang, dan hasilnya negatif. Tapi pihak sekolah katanya belum melihat hasil itu secara resmi. Kasus ini pun sudah beberapa kali dimediasi oleh Dinas Pendidikan Sumsel, tapi belum juga ada titik terang.
Kalau dilihat dari dua sisi, posisi guru dan orang tua sama-sama susah. Guru mungkin hanya ingin melindungi sekolah dari hal-hal buruk, sementara orang tua tentu ingin nama baik dan mental anaknya tidak rusak. Jadi, menurutku, sebaiknya kasus ini dilihat dengan kepala dingin dulu. Jangan langsung menyalahkan salah satu pihak sebelum semua fakta jelas.
Yang pasti, peristiwa ini jadi pengingat penting buat dunia pendidikan. Bicara soal tuduhan, apalagi narkoba, tidak bisa sembarangan. Sekolah dan guru (sepertiku dimasa depan) perlu hati-hati, karena satu kata bisa membuat anak kehilangan rasa percaya diri, bahkan trauma. Semoga saja masalah ini cepat menemukan titik terang dan semua pihak bisa dapat keadilan yang pantas.
Komentar
Posting Komentar