Sejauh Aku Mengenangmu (revisi)

Kehidupan ini hanya sekali. Dalam singkatnya, setiap manusia pasti pernah merasakan kebahagiaan saat berjumpa dengan seseorang yang tak pernah benar-benar bisa digenggam. Ada pertemuan yang terasa begitu berarti, namun entah karena jarak, waktu, atau takdir, hubungan itu akhirnya hanya tinggal di ambang kenangan. Kebahagiaan semacam itu kadang hadir dengan cara paling sederhana, seperti melalui senyuman, perhatian kecil, atau sekadar keberadaan di waktu yang tepat. Kanaya pernah merasakannya. Dan orang itu bernama Kenneth.

Kenneth adalah seorang lelaki ahli kitab yang baik budi, berperawakan tinggi, tampan, dan pandai memainkan piano. Di masa SMA, banyak yang menganggapnya culun, terlalu pendiam, atau bahkan menyerupai sosok “Stanley” dalam film-film remaja yang canggung, tenang, dan sulit ditebak. Ia jarang berbicara, hanya memiliki satu sahabat karib bernama Lingga.

Sedangkan Kanaya adalah gadis yang dikenal famous di sekolahnya, ia ramah, ceria, dan selalu berada di tengah lingkar perhatian teman-temannya. Saat pandemi COVID-19, mereka tergabung dalam satu rombongan belajar yang sama. Kala itu, Kanaya masih menjalin hubungan dengan Lingga. Namun, suatu kesalahpahaman kecil membuat hubungan itu retak. Lingga menolak melanjutkan segalanya, menatap Kanaya dengan kebencian yang dingin. Kanaya mencoba menjelaskan, tetapi telinga Lingga tertutup oleh kabar-kabar yang entah datang dari mana.

Dalam kebingungan itu, Kanaya meminta bantuan Kenneth. Ia berharap Kenneth dapat menjadi jembatan, agar Lingga setidaknya mau mendengar penjelasannya. Kenneth, dengan hati yang lembut, menuruti permintaan itu. Ia bahkan membawa Lingga ke rumah Kanaya pada hari raya besar. Namun, apa yang Kanaya harapkan tak terjadi. Lingga justru semakin murka, dan hubungan persahabatan antara Kenneth dan Lingga pun ikut renggang saat itu.

Kenneth yang merasa iba pada Kanaya melontarkan kata-kata yang akhirnya membuat Kanaya memutuskan untuk merelakan hubungan yang seumur jagung dengan Lingga. Sejak saat itu, Kenneth dan Kanaya menjadi lebih dekat. Mereka berteman, berbagi cerita, dan saling mendukung. Dalam percakapan-percakapan ringan itu, Kanaya mengetahui bahwa Kenneth menyukai seorang gadis bernama Riska, teman sekelas mereka, yang juga seorang ahli kitab. Kenneth sering berbicara tentangnya, tentang hal-hal kecil yang ia kagumi dari Riska. Sebagai teman yang baik, Kanaya membantu Kenneth mendekatinya. Namun semua upaya berakhir sia-sia, sebab Riska telah memiliki seseorang yang ia temui di gerejanya. Cocoklah sudah kisah cinta antara dua insan yang baru berteman ini. Kandas.

Naik ke kelas berikutnya, mereka semakin sering bertemu karena sama-sama terlibat dalam kegiatan sekolah. Kenneth menjadi ketua bandnya, sementara Kanaya dipercaya menjadi ketua panitia kelulusan. Keduanya berbeda bidang Kenneth di seni musik, Kanaya di matematika dan sastra. Namun perbedaan itu justru membuat mereka saling mengisi. Mereka kerap bekerja bersama seperti membuat makalah, menyusun proposal hingga saling membantu menyiapkan acara. Di sela-sela kesibukan itu, Kenneth bercerita tentang cita-citanya menjadi polisi. Sejak saat itu, Kanaya mulai merasakan perasaan yang lebih dari sekadar kagum.

Suatu hari di bulan Maret, Kanaya yang dikenal ambil dan selalu menjadi peringkat pertama seangkatan gagal lolos seleksi SNBP. Libra, salah satu teman angkatannya, mengejek tanpa belas kasihan.
 “Kok bisa nggak keterima sih, Kanaya? Katanya pinter banget?”
Ucapan itu menampar harga dirinya. Ia terdiam, menahan rasa malu dan kecewa. Namun, di sampingnya ternyata ada sosok laki-laki yang akhir-akhir selalu bersamanya.
 “Jangan dengarkan dia,” ucapnya lembut. “Apakah semua hal di dunia ini harus berjalan sesuai rencana?”

Ia mengusir Libra pergi, lalu membelikan Kanaya sebatang cokelat favorit Kanaya, Diary Milk.
 “Jangan samakan prosesmu dengan orang lain,” katanya. “Tuhan punya cara sendiri untuk menunjukkan kebahagiaan.”
Kalimat itu menenangkan hati Kanaya lebih dari apa pun.

Sejak hari itu, hal-hal kecil dari Kenneth menjadi sumber hangat di hatinya, dan akhirnya mereka berpacaran, Kenneth menyatakan perasaannya lewat sebuah tautan waktu itu. Dia mengirimkan nya pada Kanaya dimalam hari, karena dia malu. Tapi sungguh Kenneth itu sangat romantis. Pernah, di pagi buta, Kenneth berkeliling kampung mencari warung yang masih buka hanya untuk membelikannya cokelat. Pernah juga, ketika adik kelas memberi Kanaya makanan, Kenneth berkata santai,
 “Nanti makan siang sama aku saja, ya.”
Lalu mengembalikan makanan itu ke sang pemberi. Sikap-sikap kecil itu menumbuhkan tanya dalam hati Kanaya. Apakah Dia dan Kenneth akan bertahan lama? 

Menjelang kelulusan, tugas panitia semakin menumpuk. Kenneth sibuk berlatih bersama bandnya untuk acara perpisahan, sementara Kanaya berusaha menyelesaikan urusan logistik. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Leo, salah satu anggota band, menegur Kanaya dengan nada kasar.
“Ketua panitia nggak becus! Lihat, baju-bajunya berantakan!”

Tak ada satu pun yang membela, bahkan sahabatnya sendiri. Kanaya berdiri seorang diri, berusaha membereskan semuanya dengan tangan gemetar. Hingga malam itu, di tengah perdebatan di grup panitia, Kenneth muncul dan menulis pesan pendek.
 “Ini bukan cuma acaranya dia. Ini acara kita semua. Jangan menitikberatkan kesalahan pada satu orang.”
Kalimat itu membuat dada Kanaya bergetar. Ia merasa dilindungi.

Setelahnya, Kenneth menemaninya membeli perlengkapan ke kota, mengantarnya pulang, bahkan ikut berbuka puasa bersamanya. Sore itu, saat mereka berjalan di bawah langit yang mulai jingga, Kanaya merasa diperhatikan dengan cara yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Tatapan Kenneth yang lembut, senyum kecil di wajahnya semua itu meninggalkan jejak dalam ingatan.

Hari kelulusan tiba. Kanaya membacakan pidato terakhir angkatan mereka, sementara Kenneth menatap dari kejauhan, penuh bangga. Di akhir acara, Kanaya menyerahkan sebuah notebook kecil berisi foto, catatan, dan doa. Namun di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat yang kelak menjadi penyesalannya.
"Setelah ini, jangan hubungi aku lagi.”
Kenneth menepatinya. Ia tak pernah menghubungi lebih dulu. Meski begitu, Kenneth masih hadir di awal masa kuliah Kanaya. Ia datang menolong saat Kanaya tersesat, menyempatkan diri ke rumah untuk melihatnya ospek daring, dan bercerita tentang perjuangannya menembus akademi kepolisian. 

Disuatu malam, Kenneth yang sekuat baja itu menangis. Kenneth gagal, dan malam itu ia menangis di hadapan Kanaya. Hati Kanaya ikut hancur, tapi setelah itu ia memilih hal bodoh yang. Yaitu menjauh, takut kehadirannya justru mengganggu perjuangan Kenneth.

Waktu berjalan. Di tahun kedua kuliah Kanaya, Kenneth mencoba lagi. Ia kuliah sambil berlatih, berdoa, dan berharap. Kanaya hanya bisa mendukung dari jauh, lewat doa-doa yang tak pernah luput ia kirimkan. Hingga suatu hari, kabar itu datang, Kenneth diterima sebagai Bintara TNI. Kanaya tersenyum. Bahagia dan haru di waktu yang sama. Saat teman-teman ramai menulis ucapan selamat di media sosial, Kanaya hanya diam, menatap layar tanpa berani menulis apa pun. Ia baru mengirimkan pesan empat hari kemudian, dijam 12 malam.

Kenneth, meski lambat selamat sudah berhasil. Kamu keren, u deserves this. Semoga kamu terus mendapatkan hal hal baik dimanapun kamu berada, semoga selalu di kelilingi orang baik, senantiasa bahagia, dikuatkan. Kamu keren sekali."

Tanpa disangka Kanaya, Kenneth membalasnya dengan cepat.

“Aminn, makasihh banyak ucapannya, doanya, dan makasih untuk segalanya Nay. 
Tidak menyangka aku lulus, mungkin memang sudah takaran takdir dari Tuhan"

"Banyak makasih aku padamu Naya"

"Semoga sama gitu juga dengan kamu Nay, semoga hal-hal baik selalu terus ada dengan kamu"

"btw aku di bandung, daerah cipatat"

"nanti kalau aku cuti, ketemu ya Nay? kita cerita-cerita heheee"

Waktu mereka terbatas, dua belas jam lagi, seluruh ponsel peserta harus dikumpulkan. Kenneth berharap Kanaya menulis lebih awal, agar mereka bisa berbicara lebih lama. Tapi janji adalah janji, ia tak pernah lebih dulu mengirim pesan. Bertahun-tahun setelahnya, Kenneth masih membuka laman pesan Kanaya, berharap suatu hari ada tulisan baru di sana. Andai saja keduanya tahu isi hati masing-masing, mungkin pertemuan mereka akan bertahan lebih lama. Namun setelah percakapan terakhir di bulan Juli itu, tak ada kabar lagi.

Kanaya tak pernah meminta lebih pada Tuhan. Melihat Kenneth bahagia sudah cukup baginya. Ia teringat firman dalam Al-Qur’an, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Dan di sisi lain, Kenneth juga berpegang pada makna dalam Alkitab, “Kamu boleh mencintainya, tapi jangan ambil dia dari Tuhannya.”

Begitulah akhirnya.
Bukan pernikahan, bukan pelukan, hanya doa yang mengalir pelan dalam setiap kenangan.
Cinta mereka tak berakhir tragis ,  hanya berhenti di tempat yang seharusnya, di antara iman, rindu, dan keikhlasan. Sebuah kenangan yang tak pernah benar-benar hilang, hanya disimpan, dihargai, dan diam-diam, dirindukan selamanya.





Komentar

Posting Komentar