Senja di Ruang Kelas 12

Hi..
Sebelumnya aku menulis dengan latar SMA, karena lagi rindu masa itu. Biarkanlah sedikit berlebihan, yang penting aku bahagia wkwk. For your information juga, ini terinspirasi dari lagu Payung Teduh - Untuk perempuan yang sedang dalam pelukan.
Selanjutnya aku ijin pada dosenku Pak Jumadi untuk meneruskan cerita ini di blog selanjutnya dengan lagu pilihanku. (Ijin ya pak).

~~~

Ruang kelas yang sudah sepi sore hari. Meja-meja berantakan dengan kertas catatan dan brosur kegiatan OSIS. Cesa duduk di bangku paling belakang, kepalanya tertelungkup di atas buku. Hingga ada seorang lelaki masuk, masih memakai seragam kusut dengan dasi terlepas. Raka, namanya Raka. Ia membawa dua kotak susu dari kantin kemudian meletakkannya satu kotak susu di depan Cesa, pacarnya.

Raka : “Kalau kamu terus tidur di meja, nanti bukunya bisa iri karena kebagian semua air matamu.”

Mengangkat kepala pelan, menjawab Raka dengan suara seraknya.

Cesa : “Aku nggak nangis Rak. Cuma.. capek.”
Raka : “Ces… capek itu wajar. Kamu bukan mesin. Kamu boleh berhenti sebentar. Kamu boleh duduk diam, bahkan boleh merasa rapuh"

Cesa menoleh, tersenyum hambar pada lelaki yang setahun belakangan selalu menemaninya.

Cesa : “Aku ikut lomba, jadi panitia pensi, belajar buat UTBK… tapi kenapa rasanya kosong? Aku takut kalau semua ini cuma bikin aku kehilangan diriku sendiri.”

Raka : “Kelas 12 memang begitu. Semua orang sibuk bikin rencana. Ujian, lomba, rapat, seminar. Seolah kalau kita nggak lari, kita akan hilang.”
Cesa : “Tapi kalau aku berhenti, aku takut semua orang meninggalkanku. Aku takut gagal.”

Raka menoleh pada Cesa, pada gadisnya ini. Anak pertama yang isi kepalanya penuh, diraihnya tangan gadisnya itu lalu menepuknya pelan.

Raka : “Kalau semua orang berlari meninggalkanmu, aku yang akan tetap jalan di sampingmu. Kamu nggak harus kuat sepanjang waktu. Kalau kamu nggak bisa tertawa besok, biar aku yang bikin kamu lupa caranya menangis.”

Hening. Cesa menatap Raka dengan mata basah. Senja masuk lewat jendela, cahaya oranye menyinari wajah mereka.

Cesa : “Kenapa kamu selalu ada, Rak? Padahal aku sering nyebelin, sering marah-marah, sering nggak peka.”
Raka : “Karena aku nggak datang buat versi terbaikmu. Aku datang buat menemani semua versimu bahkan yang paling lelah sekalipun. Kalau dunia sibuk menuntutmu jadi macam-macam, biarkan aku jadi tempat di mana kamu nggak harus jadi siapa-siapa.”

Cesa terdiam, lalu perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Raka membiarkannya, menghela napas panjang, lalu menutup mata sebentar.

Cesa : “Di sini… aku merasa dunia berhenti menuntutku.”
Raka : “Biar dunia terus berlari, Ces. Kita istirahat sebentar saja… di pelukan waktu yang nggak pernah tergesa.”

Suasana hening. Hanya terdengar suara jam dinding berdetak. Di ruang kelas yang sepi itu, dua anak kelas 12 menemukan sepotong tenang di tengah hiruk pikuk tuntutan hidup.

Komentar