Tenang dalam damai Timothy🕊️
Orang-orang disekitarnya (baik teman kuliah, tetangga kost, atau teman masa SMA) menyebut Timothy sebagai pribadi yang tekun dan jarang marah. Ia sering kali menyendiri, tapi bukan karena sombong melainkan karena butuh waktu untuk memproses suasana sosial di sekitarnya. Tapi sayang, perbedaan yang seharusnya diterima justru menjadi bahan ejekan dikampus nya oleh orang-orang yang tidak memiliki moral dan otak yang cukup baik.
Pada pagi yang naas itu, sekitar pukul sembilan, Timothy ditemukan jatuh dari lantai dua Gedung FISIP Universitas Udayana, Kampus Sudirman, Denpasar. Masih belum jelas penyebabnya apa, bisa saja dia didorong bukan? karena sampai sekarang tidak ada bukti dari cctv. Semoga tidak ada yang ditutup-tutupi mengingat semua pelaku berasal dari keluarga terpandang. Ia sempat dilarikan ke RSUP Prof. Ngoerah, namun dinyatakan meninggal dunia karena luka serius di panggul, paha, dan tangan kanan.
Setelah kabar kematiannya menyebar, muncul tangkapan layar percakapan grup mahasiswa yang berisi candaan dan ejekan terhadap almarhum. Nada-nada “bercanda” yang seharusnya tidak pantas diucapkan kepada siapa pun, apalagi kepada seseorang yang baru saja meninggal, fuck u guys. Dari penyelidikan internal kampus, terbukti beberapa pelaku berasal dari lintas jurusan. Ada yang dari FISIP, ada yang dari Fakultas Kedokteran, bahkan sebagian merupakan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Aneh.
Universitas Udayana mengakui bukti percakapan itu “otentik”, walau konteksnya terjadi setelah kematian korban. Para pelaku dijatuhi sanksi ringan berupa pengurangan nilai softskill, surat pernyataan, dan video permintaan maaf. Namun dikatakan oleh akun tiktok @raratalita "kampus malah upload postingan kalo ini bukan karna bully, jelas² para pelaku udah bikin video klarifikasi, tiba² video² itu pada hilang dan 9 jam yang lalu ada postingan kalo ini bukan karna bully". Aneh? Silahkan baca disini
Bagi banyak pihak, sanksi ini terasa jauh dari kata adil. Publik menilai bahwa kampus gagal melindungi mahasiswanya, terlebih mahasiswa dengan kebutuhan khusus.
Tragedi ini menampar keras wajah dunia pendidikan tinggi kita. Dalam lingkungan yang seharusnya menjadi tempat belajar tentang empati, justru masih ada ruang bagi cemoohan dan ketidakpekaan. Kasus Timothy bukan hanya tentang satu nyawa yang hilang, tapi juga tentang sistem kampus yang belum benar-benar siap menghadirkan ruang aman bagi semua mahasiswa terutama mereka yang berbeda.
Sebagai mahasiswa, patut marah kan? Bukan karena ingin mencari siapa yang salah, tapi karena sadar hari ini Timothy, besok bisa siapa saja. Empati seharusnya menjadi bagian dari diri manusia, bukan sekadar teori dalam kelas sosiologi.
Sumber-sumber :
Komentar
Posting Komentar