Dear Pak Jumadi, dosenku...
Sebelumnya bapak mungkin berpikir aku tidak pernah mengulas satupun film yang disuruh, namun percayalah semua telah dilaksanakan. Jika bapak berkenan silahkan buka di laman profilku "Layar Kata".
Aku juga jadi kepikiran, entah apa yang dirasakan Pak Buya Hamka waktu menulis novel ini. Rasanya beliau menulis dengan perasaan yang sangat dalam dan penuh emosi. Mungkin beliau ingin menyampaikan sesuatu tentang kehidupan, cinta, dan adat yang terkadang tidak adil bagi mereka yang hanya ingin mencintai dengan tulus.
Bagian yang paling bikin sesak bagiku itu di akhir film. Diakhir ikut sesak rasanya, disaat Hayati menolak untuk dipulangkan dan terlihat seperti sudah punya firasat buruk sebelum naik kapal. Namun, menurutku akhir film ini ending yg pantas, hayati tenggelam membawa rasa sakit sesakit Zainudin diawal cerita, dan Zainudin menderita karena cintanya tenggelam bersama egonya melalui Hayati.
Aku juga merasa Pak Buya Hamka membuat cerita ini bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang kritik terhadap adat Minang yang dulu terlalu membatasi pilihan seseorang. Beliau seolah ingin menyindir masyarakatnya sendiri agar lebih terbuka, terutama soal pernikahan yang sering kali ditentukan oleh suku dan harta, bukan karena cinta.
Komentar
Posting Komentar