Aku baru saja selesai menonton film zombie Indonesia berjudul Abadi Nan Jaya, dan jujur, setelah sebelumnya nonton series Zona Merah, film ini terasa cukup keren tapi tetap lebih bagus Zona Merah. Ciri khas Indonesianya masih sangat terasa uniknya, penyebaran wabah zombie di sini bukan karena eksperimen sains atau virus buatan militer seperti film barat, tapi karena jamu, sesuatu yang sangat identik dengan budaya kita. Ceritanya dimulai dari sebuah keluarga kaya di desa yang memiliki pabrik jamu. Setelah bertahun-tahun, pabrik itu tak lagi menghasilkan produk istimewa. Semua jamu mereka terasa biasa dan lumrah ditemukan di pasaran. Karena hal itu, sang pemilik, Pak Dimin, berniat menjual pabriknya kepada perusahaan besar bernama Nusa Farma.
Sebelum proses penjualan berlangsung, para pekerja pabrik memberikan sampel jamu baru kepada Pak Dimin dan Ibu Grace. Jamu itu belum berizin BPOM dan akhirnya Pak Dimin meminumnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa jamu tersebut mengandung efek luar biasa sekaligus berbahaya. Setelah meminumnya, tubuhnya perlahan berubah, rambutnya yang semula putih menjadi hitam, kulit keriputnya menegang kembali, bahkan suaranya terdengar muda. Awalnya, Pak Dimin menganggap ini mukjizat. Ia membatalkan niat menjual pabrik karena yakin jamu ini bisa membuat perusahaannya berjaya lagi.
Keputusan itu justru menimbulkan amarah besar dari anaknya, Kennes. Ia marah karena hasil penjualan pabrik itu rencananya akan digunakan untuk membuka usaha baru agar bisa hidup mandiri bersama anaknya, Rayhan. Hidup Kennes sendiri sedang berantakan. Suaminya, Rudi, berselingkuh dan sahabatnya sendiri sejak kecil, Karina, yang kini malah menikah dengan ayahnya. Konflik keluarga mereka makin memanas dan menyakitkan. Di tengah pertengkaran itu, sesuatu yang aneh mulai terjadi. Tubuh Pak Dimin tiba-tiba berubah kaku, matanya kosong, lalu perlahan ia berubah menjadi zombie dan menyerang orang-orang di sekitarnya. Karena panik saat ingin diserang ayahnya, Bambang menembaknya. Saat itu mereka belum tahu bahwa yang sedang terjadi adalah wabah zombie. Beberapa pekerja yang tergigit dibiarkan pergi meninggalkan rumah tanpa disadari bahwa mereka membawa virus tersebut. Dari situlah penyebaran dimulai, menjangkiti seluruh desa. Warga yang tidak tahu mengira kejadian itu sebagai kesurupan massal, bukan wabah yang sebenarnya. Film ini berakhir dengan adegan suami Bu Grace yang ikut meminum jamu itu, membuatku yakin kalau akan ada season atau sekuel keduanya nanti.
Film ini, yang berlatar di sebuah desa Jawa dengan nuansa pedesaan yang kental, disutradarai dan ditulis oleh Dimas Ardi Prakoso, sutradara muda Indonesia yang sebelumnya dikenal lewat karya Zona Merah. Banyak orang-orang di media sosial memuji Abadi Nan Jaya karena konsepnya segar, memadukan unsur lokal seperti jamu dan mitos kesurupan dengan genre zombie modern. Meski begitu, beberapa juga mengkritik efek visualnya yang masih kurang halus dan tempo cerita yang kadang terlalu lambat. Tapi secara ide, menurutku film ini “bernyawa” karena berhasil mengangkat isu sosial dan budaya Indonesia ke dalam genre yang jarang disentuh sineas lokal.
Kalau dibandingkan dengan drama Korea zombie seperti Kingdom atau All of Us Are Dead, film ini punya kemiripan dari sisi konsep, yaitu sama-sama menampilkan wabah yang berawal dari sesuatu yang tradisional dan berhubungan dengan manusia yang tamak akan kekuasaan. Namun Abadi Nan Jaya tetap punya karakter tersendiri karena berakar kuat pada budaya lokal. Latar desanya yang khas Jawa, konflik keluarga, dan simbol jamu sebagai “ramuan kehidupan”.
Kalau dilihat dari kacamata sosiologi pengarang, film ini mencerminkan kegelisahan masyarakat modern terhadap usia dan penampilan. Pak Dimin bukan hanya tokoh fiktif, tapi cerminan manusia masa kini yang begitu takut menua, takut kehilangan pesona dan pengaruh. Sama seperti banyak orang zaman sekarang yang rela melakukan operasi plastik, memakai skincare tanpa izin BPOM, mengonsumsi obat pelangsing, atau bahkan menggunakan produk bermerkuri hanya demi terlihat muda dan sempurna. Semua dilakukan tanpa memahami bahaya di baliknya, sama seperti Pak Dimin yang meminum jamu berbahaya tanpa tahu akibatnya.
Komentar
Posting Komentar