Hai, selamat sore. Aku ingin bercerita.


Dalam sebuah forum mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG), seorang perempuan yang merupakan ahli gizi menyampaikan berbagai masalah yang ia temukan di lapangan. Ia mengatakan bahwa,
“banyak loh posisi ahli gizi yang justru diisi oleh orang yang bukan ahli gizi.” 
Selain itu, ia juga memberikan beberapa solusi yang menurutku pribadi sangat wajar. Ia menyarankan agar Badan Gizi Nasional bekerja sama dengan organisasi profesi ahli gizi, supaya kebutuhan tenaga profesional bisa benar-benar terpenuhi.

Ia juga menekankan pentingnya keberadaan ahli sanitasi di setiap BPG, agar makanan yang dibagikan kepada anak-anak aman dan bersih. Hal ini berkaitan erat dengan sejumlah kasus keracunan yang terjadi belakangan ini.

Namun, sebelum ia selesai berbicara, omongannya dipotong oleh Pak Cucun, Wakil Ketua DPR. Responsnya terdengar kurang terbuka terhadap masukan. Tiba-tiba ia memotong pembicaraan dan berkata, 
“Saya nggak suka anak muda yang arogan seperti ini. Mentang-mentang sekarang kalian dibutuhkan negara. Yang membuat kebijakan itu saya.”

Sampai sekarang aku juga belum menemukan video lengkap pertanyaan si penanya perempuan tadi yang membuat Pak Cucun merasa tersinggung. Yang jelas, dalam momen itu Pak Cucun menyampaikan bahwa ia akan membahas ulang istilah jabatan dalam rapat MBG. Ia berencana mengganti diksi “ahli gizi” menjadi “pengawas gizi”, dan menurutnya posisi tersebut tidak harus diisi oleh seseorang yang berlatar pendidikan gizi secara formal.

Sebagai masyarakat, tentu kita merasa aneh. Ini kan program Makan Bergizi Gratis, bergizi loh, ya, bergizi. Bagaimana bisa dibilang tidak perlu ahli gizi? Yang lebih membingungkan, ia menyebut bahwa posisi itu dapat diisi siapa saja asalkan mengikuti pelatihan tiga bulan. Hedeuh...

Pernyataan itu langsung memicu kemarahan publik. Wajar saja sih, karena kedengaran seperti meremehkan profesi ahli gizi, yang pendidikannya bertahun-tahun dan memiliki tanggung jawab langsung terhadap kesehatan masyarakat. Masa iya bisa digantikan oleh pelatihan singkat tiga bulan?. Pak Cucun bahkan sempat menyebut penanya sebagai “arogan”.

Setelah gelombang kritik dari publik dan para ahli gizi, akhirnya Pak Cucun memberikan klarifikasi. Ia mengaku tidak bermaksud merendahkan profesi tersebut. Namun dari sudut pandang seorang mahasiswa pendidikan seperti aku, ahli gizi itu bukan sekadar “tukang hitung kalori”. Mereka belajar biokimia, metabolisme, keamanan pangan, sanitasi, hingga perencanaan menu berbasis balanced nutrition. Pelatihan tiga bulan jelas tidak cukup untuk mencakup semua kompetensi itu.

Mengubah istilah “ahli gizi” menjadi “pengawas gizi” bukan sekadar persoalan diksi menurutku, itu adalah perubahan fungsi dan kompetensi yang tidak bisa dianggap remeh.

Komentar