Hanya itu saja yang ingin ku ceritakan hari ini, cerita yang dengan berani aku luapkan melalui tulisan.
Sebenarnya aku juga ingin menceritakan keseluruhan kegiatan yang dilakukan panitia hari ini. Tapi, aku yakin mereka pasti sudah berusaha dengan 200% semangat mereka untuk membuat acara ini.
Tapi, akan kuceritakan sedikit kekesalanku hari ini. Kami berangkat pukul 5, dengan kondisi perut kosong karena tidak terbiasa sarapan di pukul tersebut. Saat perjalan menuju Bukit Rawi, panitia memberikan kami roti, permen, dan juga air yang cukup untuk mengganjal perut kami.
Setelah sampai sana, sedikit terlambat dari seharusnya dan ada beberapa waktu yang cukup terbuang. Kami baru memulai sesi menyuluh sekitar pukul set 9. Sesuai susunan acara yang kelompok kami sudah buat, ada sekitar 30 menit waktu terbuang, padahal bagi kami itu waktu yang berharga. Karena, kami sudah mempersiapkannya dengan matang. Kami bertanya ke panitia, apakah boleh waktu menyuluhnya di tambahkan sedikit ke pukul 10.20 WIB. Namun, mereka menjawab tidak boleh karena memang waktunya istirahat. Karena itu, kami mencoret beberapa agenda yang harusnya dilaksanakan. Tiba di pukul 10, ternyata masih banyak kelas lain yang melanjutkan menyuluhnya. Tapi kami tetap keluar, sesuai dengan arahan panitia.
Kami masuk keruang istirahat penyuluh dengan kondisi tenggorokan kering, suara hampir habis, dan perut yang lapar sekali. Disana kami melihat ada kresek nasi kotak terletak diatas kursi. Tapi, teman-teman yang lain tidak ada yang memakannya, hanya dibiarkan begitu saja. Aku bersama teman-teman yang lain menunggu panitia membagikan nasi itu, tapi masih belum ada pergerakan.
Kemudian ada salah seorang teman kami bertanya, apakah boleh nasi kotak itu dibagikan sekarang? tapi mereka menjawab, kalau belum waktunya makan. Makan itu saat ishama dan sesuai dengan rundown. Sedangkan, ishama di rundown itu pukul 11.40 atau 12.00 WIB. Padahal saat itu kami keluar menyuluh paling lambat pukul 10.30 WIB, masih ada waktu sekitar 1 jam an agar nasi kotak itu dibagikan kepada kami. Tidak apa-apa, kami juga pernah jadi panitia, jadi memaklumi mereka, mungkin mereka hanya mengikuti arahan dan takut jikakalau bertindak salah. Akhirnya kami memilih untuk makan ke kantin sekolah saja.
Orang sabar dijauhkan dari Gaitonde
BalasHapus