Hari ini aku, Vita, dan Julia pergi ke Musda Golkar ke-11 di Swiss-Bellhotel Danum. Jujur, rasanya lucu juga akhirnya bisa datang ke acara seperti ini, soalnya dulu waktu masih part-time di Lippo Mall aku sering dengar cerita dari Kak Arbai, kenalan lamaku yang kuliah di UMPR jurusan IAD.
Dia sering ikut kegiatan politik dan acara-acara rakyat gitu, dan karena aku tertarik, aku pernah dimasukin ke grup WA yang isinya info kegiatan kayak begini. Tapi ya itu… dulu aku nggak pernah sempat ikut karena kuliah terlalu padat.
Semester ini tugas kayak nggak ada habisnya. Dari tugas Parade Kostum yang super menguras tenaga sampai Metodologi Penelitian Kuantitatif yang bikin kepala rasanya kemresek. Dan setiap aku mau mulai ngerjain dengan tenang, selalu ada aja hal lain yang lebih menarik daripada tugas. Jadi begitu libur semester mulai keliatan, aku langsung bertekad buat melakukan sesuatu yang beda. Akhirnya aku ajak Vita dan Julia buat ikut Musda ini. Refreshing sekaligus pengalaman baru.
Salah satu alasan kenapa kami semangat banget datang adalah karena kami ingin lihat langsung Pak Bahlil. Iya, segitunya. Kami bertiga terutama aku dan Vita memang suka beliau bukan dalam arti fanatik, tapi kami merasa beliau itu sosok yang keren dan menarik. Katanya ada uang transportasi juga, tapi kami udah sepakat buat nggak berharap banyak supaya nggak sakit hati. Yang penting ketemu Pak Bahlil, itu aja udah cukup.
Dan ternyata benar, mendengar beliau bicara langsung itu beda. Meski sering dijadiin bahan meme lucu di internet, cara beliau ngomong itu tegas, jujur, dan berisi. Ada satu kalimat yang langsung nyantol di kepala: “Di politik ini, duit bukan cuma buat biaya operasional, tapi buat biaya psikologis.” Entah kenapa, kami semua langsung kayak, “Iya juga ya….” Sejak saat itu, aku makin ngefans.
Pulang dari acara, aku jadi penasaran dan mulai baca-baca tentang perjalanan hidup beliau. Ternyata latar belakang Pak Bahlil itu benar-benar menginspirasi. Beliau lahir 7 Agustus 1976 di Banda, Maluku, dari keluarga sederhana. ayahnya buruh bangunan, ibunya buruh cuci. Sejak SD beliau sudah jualan kue buat bantu orang tua. Pas SMP jadi kondektur angkot, lalu saat SMA di Fakfak malah sudah nyopir angkot sendiri buat bayar sekolah.
Setelah tamat SMA, beliau merantau ke Jayapura dan kuliah di STIE Port Numbay. Di sana beliau aktif banget di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan dari situ mulai banyak belajar soal organisasi dan kepemimpinan. Setelah lulus, beliau sempat kerja di perusahaan negara sebelum akhirnya memutuskan terjun ke dunia usaha dan membangun perusahaan sendiri yang kemudian berkembang jadi grup usaha bernama PT Rifa Capital.
Dari dunia bisnis, kariernya terus naik. Beliau pernah memimpin HIPMI pada 2015–2019, lalu pada 2019 ditunjuk sebagai Kepala BKPM. Tahun 2021 beliau jadi Menteri Investasi, dan pada 2024 beliau dilantik sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Tahun yang sama, beliau juga terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
Mendengar perjalanan hidupnya, rasanya wajar kalau seseorang bisa kagum. Dari penjual kue, kondektur, sopir angkot, sampai jadi pengusaha dan akhirnya pejabat negara itu perjalanan panjang yang pasti tidak mudah. Dan mendengar langsung beliau berbicara tadi membuat aku merasa seperti diberi tamparan halus: bahwa hidup itu luas dan bisa dibentuk lewat kerja keras dan keberanian mengambil peluang.
Jadi ya… hari ini bukan cuma tentang datang ke Musda atau melihat sosok pejabat dari dekat. Buat aku, ini juga tentang melihat bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari acara yang awalnya cuma ingin aku jadikan pelarian dari tugas kuliah.
Komentar
Posting Komentar