Hari ini, Senin, 10 November 2025.
Aku dan teman-teman kampus menjalani kegiatan tahunan kami, penyuluhan.
Kali ini aku ditempatkan di sebuah SMA.
Untuk hari pertama, aku masuk ke kelas XI-B.

Sejak awal aku sudah bersemangat sekali.
Aku bahkan menawarkan diri jadi pemandu acara.
Dan saat panitia mengirim foto kelasnya, entah kenapa, aku tersenyum.
Rasanya familiar.
Kursinya, papan tulisnya, tata letak kelasnya, bahkan pojok bacanya...
semuanya mirip dengan kelasku dulu.

Awalnya kelas itu pendiam.
Mungkin karena kami masih asing satu sama lain.
Tapi lama-kelamaan, tawa mulai muncul.
Suasana jadi hangat.
Rasanya menyenangkan sekali.

Tapi di antara semua wajah itu,
ada satu sosok yang entah kenapa terasa... akrab.
Dia tinggi, pendiam, pandai berbicara soal hal-hal serius,
sedikit tengil kalau bersama temannya,
tapi tetap sopan dan tenang.

Dia mengingatkanku pada Kenneth.
Tokoh dalam cerpen yang pernah kutulis.
Tokoh yang sebenarnya nyata.
Namanya Christian Marlianto.

Setiap kali aku bertemu seseorang yang mirip dengannya,
selalu ada rasa aneh yang sulit dijelaskan.
Seolah semesta tak henti bercanda padaku, pada seseorang yang cintanya tak pernah bisa jadi nyata.

Aku menulis Kenneth supaya dia abadi.
Karena mungkin... kami tidak akan pernah jadi “kami”.
Tapi biarlah ia hidup di dalam tulisanku.
Cukup dikenang.

Aku masih ingat, sebelum dia berangkat untuk pendidikan empat bulan,
dia sempat bilang,

“Nanti kalau aku cuti, kita ketemu ya, Sa. Aku ceritakan semuanya.”

Dan sejak saat itu... aku menunggu.
Menunggu seperti orang bodoh.
Menunggu sesuatu yang aku tahu... mungkin tidak akan datang.

Kami bukan siapa-siapa.
Hanya dua orang asing yang dulu sempat saling cinta.
Tapi setiap kali negeri ini sedang kacau,
aku masih saja menghubunginya.
Menanyakan kabarnya.
Baik kah dia? Sehat kah dia?
Ada yang jahat padanya, kah?

Meski aku tahu... pesanku hanya akan berakhir dengan satu centang.

Sampai suatu sore, 3 November lalu.
Sepulang kuliah, aku melihat unggahan di Instagram.
Dia, bersama orang tuanya, di acara pembaretan.
Rasanya... senang, tapi juga sesak.

Seperti orang bodoh, aku membuka ruang pesan kami,
masih dengan senyum yang entah kenapa perlahan memudar.
Pesanku masih centang satu.
Dan di bawahnya ada tulisan kecil:
“Nomor ini telah diganti.”

Aku mencoba berpikir positif.
Mungkin atasannya yang menyuruh.
Mungkin ibunya.
Mungkin dia memang ingin memulai lagi dari awal.

Tapi, kalau jujur... malam itu aku hanya diam lama.
Membiarkan pikiran-pikiran kecil berlarian di kepala.

Aku ingat, aku pernah menulis puisi galau di story Instagram. Di 3 November itu juga.
Dari semua unggahanku, hanya itu yang ia sukai. Lalu pikirku, apakah dia merasakan apa yang kurasakan sekarang? 

Tapi sekarang aku tahu,
tak semua yang indah harus dimiliki.
Dan tanpa lelaki pun, aku tetap baik-baik saja.

Mungkin dia tidak ingin memberi harapan.
Mungkin dia masih sibuk di sana.
Dan benar saja, sejak Jumat lalu, dia tidak muncul lagi.
Bahkan di Instagram, satu-satunya tempat aku bisa tahu kabarnya.

Aku hanya berharap dia baik-baik saja.
Semoga Tuhan menjaganya di mana pun ia berada.
Ada atau tidaknya aku dalam hidupnya sekarang,
semoga semesta mempertemukannya dengan orang-orang yang tulus... dan baik.

Komentar