Hati yang Patah

Semesta memang pandai berkelakar
pada manusia yang tengah jatuh hati,
diberinya tanda seolah cinta itu abadi,
padahal ia hanya permainan sunyi.

Waktu datang, menari di sela ragu,
membalut bahagia dengan luka yang baru.
Dan luka itu, entah mengapa,
selalu memilih untuk tinggal lebih lama.

Tiada yang perlu disalahkan,
tidak semesta, tidak pula waktu.
Sebab pada akhirnya,
manusia selalu patah
oleh angannya sendiri.

Komentar