Hai, malam ini aku ingin membahas tentang kasus femisida yang belakangan ini ramai sekali dibicarakan. Mungkin banyak yang sudah melihat orang-orang mengganti foto profil media sosial mereka menjadi ungu. Awalnya aku sendiri penasaran, kenapa semuanya berubah serempak begitu. Setelah mencari tahu, ternyata ada cerita besar dan menyakitkan di baliknya.
Di Afrika Selatan, angka femisida sudah berada pada titik yang benar-benar mengkhawatirkan. Femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan hanya karena dia perempuan. Biasanya dipicu oleh ego, rasa memiliki yang berlebihan, tidak terima ditolak, atau hubungan yang begitu toxic sampai perempuan dianggap sebagai benda, bukan manusia. Di sana, kasus seperti ini bukan kejadian langka. Bahkan disebutkan bahwa sekitar lima belas perempuan kehilangan nyawa setiap hari, dan sebagian orang sampai menganggap kekerasan berbasis gender sebagai sesuatu yang wajar.
Beberapa kasus yang terjadi sebelumnya membuat masyarakat benar-benar terpukul sekaligus marah. Banyak orang merasa sistem hukum bergerak terlalu lambat. Pelaku kekerasan bisa lolos, sementara korban kerap diabaikan. Lama-kelamaan, rasa frustrasi itu menumpuk hingga akhirnya meledak menjadi gerakan yang besar. Masyarakat ingin menunjukkan bahwa mereka tidak mau diam lagi.
Dari situlah muncul gelombang Purple PFP. Orang-orang mengganti foto profil menjadi ungu sebagai bentuk solidaritas dan penolakan terhadap kekerasan terhadap perempuan. Warna ungu sendiri digunakan sebagai simbol internasional dalam perjuangan melawan kekerasan berbasis gender. Selain perubahan foto profil, ada juga aksi lain seperti ajakan untuk tidak bekerja dan tidak berbelanja pada hari tertentu sebagai bentuk protes, mengenakan pakaian hitam, berdiam diri selama beberapa menit untuk mengenang para korban, serta menyebarkan edukasi sebanyak mungkin agar semakin banyak orang sadar bahwa masalah ini tidak boleh dibiarkan.
Ketika membaca semua itu, aku merasa gerakan ini bukan sekadar tren media sosial. Ada kemarahan, kesedihan, dan harapan yang bercampur menjadi satu. Ini adalah suara orang-orang yang sudah terlalu lama menyaksikan kekerasan dianggap sepele. Meskipun gerakan ini berasal dari Afrika Selatan, pesan yang dibawanya sangat universal. Setiap perempuan, di mana pun berada, berhak untuk hidup aman tanpa ketakutan.
Aku menuliskan ini yang meski hanya dibaca orang yang mengunjungi blog ku saja, karena aku percaya kita perlu mulai lebih banyak membicarakan masalah kekerasan berbasis gender. Tidak harus menunggu sampai tragedi besar terjadi. Kadang cukup dimulai dari rasa penasaran, lalu berubah menjadi kesadaran, dan akhirnya mendorong kita untuk peduli.
Komentar
Posting Komentar