Seorang pengecut yang hidup di dalam penjara.
Sudah lebih dari dua puluh tahun ia di sana,
di ruang yang sama,
dengan tembok yang sama,
makanan yang rasanya tak pernah berubah,
dan sunyi yang menua bersama dirinya.

Bukan karena ia tidak ingin pergi.
Ia berniat meninggalkan semuanya,
tapi jeruji besi itu,
yang entah dibuat dari apa.
Rasa bersalah kah, ketakutan kah, atau kenangan.
Memaksanya untuk tetap tinggal.
Menahannya agar tidak melangkah keluar,
mengikat kakinya seperti rantai tak terlihat.

Padahal ia ingin sekali melihat dunia luar.
Melihat warna-warna yang lupa ia rasakan.
Menatap indahnya Amsterdam yang selalu ia dengar dari cerita orang,
hiruk pikuk Seoul yang katanya penuh cahaya,
atau bahkan sekadar tenangnya Banda Neira yang mungkin bisa membuat dadanya bernapas lebih lepas.

Ia ingin keluar.
Tapi keinginannya terkurung lebih rapat daripada semua pintu penjara di dunia.

Komentar