Aku baru sempat nonton 3 Idiots, dan karakter yang paling menjengkelkan menurutku itu si Pak Virus. Dari awal aja dia muncul sudah kelihatan kalau dia tipe pemimpin kampus yang keras kepala, perfeksionis, dan selalu merasa benar. Setiap dia buka mulut rasanya selalu ada tekanan baru buat mahasiswa. Kadang sampai capek sendiri ngeliatnya, karena dia benar benar nutup mata dari sisi manusiawi mahasiswa.
Tapi justru karena ada karakter kayak Pak Virus inilah film ini berasa realistis. Kita pasti pernah ketemu orang yang keras, nggak mau denger pendapat orang lain, dan terjebak di aturan yang dia buat sendiri. Film ini nunjukin kalau tekanan dalam dunia pendidikan itu bukan cuma dari tugas atau nilai, tapi juga dari orang orang seperti dia.
Di sisi lain ada Rancho, yang enteng banget cara mikirnya dan pinter banget. Dia belajar karena dia suka, bukan karena takut nilai jelek. Sikapnya yang santai bikin film ini jadi lebih hangat. Dia sering ngomong hal-hal yang sederhana tapi nyelekit ke hati, sampai rasanya kita juga ikut mikir tentang hidup.
Farhan dan Raju juga punya porsi ceritanya sendiri yang bikin film ini terasa dekat dengan kehidupan nyata. Farhan yang sebenarnya pengin jadi fotografer tapi terjebak ambisi orang tua. Raju yang harus berjuang keras karena kondisi ekonomi keluarga. Dua cerita ini terasa membumi dan nggak berlebihan.
Nah, yang bikin film ini makin kuat itu sebenarnya penulisan naskahnya. Cara ceritanya diatur maju mundur, dari masa kini ke masa lalu, tapi tetap gampang diikutin. Dialog dialognya juga natural, nggak terasa dibuat buat. Banyak kalimat sederhana yang akhirnya jadi ikon, kayak All is Well. Penulis naskahnya bisa gabungin humor, kritik sosial, dan drama tanpa terasa berat. Mereka tahu kapan harus bikin kita ketawa, kapan harus bikin kita diem mikir, dan kapan harus bikin kita tersentuh. Ritme ceritanya pas, nggak buru buru, tapi juga nggak bertele tele.
Salah satu yang aku suka dari naskahnya adalah bagaimana setiap karakter punya alasan kuat di balik tindakannya. Bukan asal marah, asal nangis, atau asal lucu. Semua ada latar belakangnya. Dan konflik konfliknya juga masuk akal, bukan sekadar demi drama.
Pokoknya, secara penulisan, film ini rapi banget. Ceritanya ngalir santai tapi tetap punya bobot. Nggak cuma ngomongin pendidikan, tapi juga ngomongin pilihan hidup dan keberanian buat jadi diri sendiri.
Kalau ditanya rating, masih tetap sekitar 9 dari 10. Banyak pesan moral yang aku dapatkan dari film ini, relate rasanya....
Rasa-rasanya sangat bijak jika di komentar saya kali ini tidak perlu menyebut Gaitonde
BalasHapus