Arthada Oriana. Anak bungsu yang kata orang-orang nasibnya tidak beruntung. Ia lahir pada Rabu, 13 Mei 1998, tepat ketika Indonesia sedang memanas dan negara sedang jauh dari kata baik-baik saja. Karena itulah ayahnya memberinya nama Arthada Oriana, dengan harapan kelak hidup putri kecilnya tidak seburuk keadaan negeri pada hari ia dilahirkan.
"Semoga Oriana selalu dikelilingi orang-orang yang baik padanya.",
begitu doa ayahnya saat pertama kali menatap wajah bayi mungil itu.
Oriana adalah putri yang paling dinanti ayahnya. Saat ibunya mengandung Oriana, ayahnya bahkan mengambil cuti setahun penuh hanya untuk menemani. Maka ketika Oriana akhirnya lahir, dialah yang paling berbahagia. Ia bahkan menyiapkan nama panggilan khusus untuk anak bungsunya itu, Orin.
Kakak Oriana bernama Jansen. Saat Oriana lahir, Jansen baru berusia delapan tahun. Masih terlalu kecil, terlalu sibuk dengan duniannya sendiri. Saat Oriana lahir, Jansen nyaris tidak peduli. Ia hanya ingin bermain, seperti anak-anak lain pada umumnya. Tetapi setahun kemudian, ketika Oriana mulai belajar berjalan dan perhatian ayah lebih banyak tercurah pada adik kecilnya itu, Jansen mulai merasakan sesuatu yang baru, rasa tidak dianggap.
Di usia yang masih sangat muda, Jansen merasa hanya ibunya yang sayang padanya. Ayah, menurutnya, hanya punya mata untuk Oriana. Sejak saat itu, benih kecil kebencian tumbuh begitu saja, diam-diam, dingin, dan nyaris tak terlihat.
Oriana kecil dirayakan ayahnya dalam segala hal. Semua yang dipakai Orin bernuansa merah muda. Kebutuhan Orin selalu tercukupi. Di era 90-an, keluarga mereka termasuk keluarga yang berada. Ayah seorang tentara dan ibu seorang guru. Ayah dan ibu sebenarnya tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang kepada anak-anaknya. Hanya saja, rasa itu sering kali berbentuk berbeda di mata anak yang menerimanya.
Saat ayah membelikan Oriana baju, Jansen pun dibelikan. Namun ayah memang lebih sering bermain dengan Oriana, lebih sering menggendongnya, lebih sering tertawa di pangkuannya, dan hal-hal kecil semacam itu pula yang membuat Jansen merasa kalah.
Tahun kedua Oriana hadir di dunia tiba. Ia mulai berjalan dengan langkah-langkah kecil yang berani, dan ayahnya amat bangga. Selama dua tahun itu, setiap momen Oriana diabadikan oleh ayah dalam bentuk foto. Foto saat Orin pertama kali makan MPASI, saat pertama kali minum susu dari botol, hingga momen ketika bibir mungilnya menyebut “ayah” untuk pertama kalinya.
Namun, seperti banyak orang bilang, semesta pandai berkelakar tentang hidup manusia. Satu-satunya tameng Oriana direnggut semesta, cepat, dingin, tanpa memberi waktu untuk mengerti.
Ayah meninggal pada malam Natal, 24 Desember 2000. Ia terkena ledakan bom saat melintas di kawasan Gereja Katedral Santo Petrus. Dalam hitungan detik, dunia Oriana berubah. Sejak malam itu, ia tidak lagi memiliki tameng dalam hidupnya. Dan sayangnya, ia terlalu kecil untuk mengingat suara ayahnya, padahal suara itulah yang dulu adalah dunia kecilnya.
Komentar
Posting Komentar