Arthada Oriana - 2. Arah yang semakin hilang.

Dunia keluarga kecil itu berubah sejak kabar duka menghantam pintu mereka untuk pertama kalinya. Malam itu, kediaman mereka dipenuhi orang-orang yang datang mengucapkan belasungkawa. Orang dewasa berbicara pelan, beberapa menangis, beberapa hanya diam menunduk. Oriana, yang masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan, hanya tahu satu hal. Semua orang memanggil nama ayah, tetapi ayah tidak muncul.

Ibunya duduk memeluk dirinya sendiri di ruang tamu. Sesekali ia memandang ke arah pintu, seolah menunggu seseorang yang tak akan pernah tiba lagi. Di pangkuannya tergenggam erat foto ayah dalam seragam, senyumnya membeku dalam bingkai.

Jansen berdiri di pojok ruangan, menatap tubuh ayah yang terbujur dalam peti. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa takut bukan karena kehilangan mainan atau perhatian, melainkan karena rumah mereka tiba-tiba terasa asing. Ia ingin memeluk ayahnya, tetapi terlalu banyak orang, terlalu banyak suara doa, terlalu banyak hal yang tak sanggup ia ucapkan.

Setelah pemakaman selesai, rumah menjadi sunyi. Sunyi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, sunyi yang menyisakan jejak seseorang yang dulu selalu ada.

Hari-hari berlalu tanpa suara tepukan tangan ayah saat melihat Oriana belajar berjalan, tanpa tawa yang dulu memenuhi ruang dapur setiap pagi. Ibunya berusaha tetap kuat, kembali mengajar, kembali menata hidup, kembali mencoba tertawa. Tetapi matanya selalu tampak menanggung beban yang tak pernah selesai.

Oriana tumbuh tanpa ingatan tentang pelukan ayahnya. Yang ia punya hanya foto-foto yang disimpan dalam album besar, penuh momen kecil yang pernah terasa besar. Dalam foto-foto itu, ayah selalu tersenyum, seolah ia tahu bahwa kenangan kelak akan menjadi warisan paling abadi bagi putrinya.

Sementara Jansen tumbuh dengan cara berbeda. Ia belajar menahan banyak hal dalam diam. Ia merasa kehilangan dua orang sekaligus, ayah yang pergi, dan ibu yang kini lebih sering menangis di kamar ketika malam turun. Dan rasa iri kepada Oriana yang dulu tumbuh, perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Adik kecil yang dulu menjadi sumber kebenciannya kini perlahan hilang. Adik kecil yang sering ia tenangkan saat menangis, adik kecil yang popoknya ia gantikan di tengah malam. Perlahan, rasa benci itu memudar dari diri Jansen.

Hari demi hari berlalu, tetapi tidak dengan kemurungan ibu. Kehilangan seseorang yang dulu selalu kau tunggu pulang sulit untuk diterima. Dulu, saat ayah sering dinas keluar kota, ibu tampak biasa saja, karena ayah pasti akan kembali. Tetapi kini, ayah tidak akan pernah kembali.

Waktu bergerak. Oriana kini berusia dua belas tahun, dan Jansen empat belas tahun. Mereka duduk di bangku SMP. Oriana anak yang cukup pintar, meski bukan tipe yang sering mengikuti lomba-lomba atau menonjol di kelas. Rutinitasnya sederhana, datang ke sekolah, belajar, lalu pulang. Begitu pula dengan Jansen.

Di rumah, mereka jarang berbicara. Setelah pulang sekolah, mereka masuk ke kamar masing-masing. Ibu pun demikian. Baru ketika bibi memanggil untuk makan malam, mereka turun. Di meja makan, ibu hanya bertanya seperlunya, apakah mereka sudah belajar, ada tugas atau tidak, bagaimana sekolah hari itu. Selebihnya, keheningan kembali mengisi ruang.

Sejak ayah pergi dan hingga mereka tumbuh remaja, ibu kerap masih menangisi ayah. Sering kali Jansen memergoki ibunya berbicara pada foto ayah yang tergantung di dinding ruang tamu. Jansen sedih melihatnya, tetapi ia tak berani mendekat. Ada jarak yang tumbuh perlahan, jarak yang tidak pernah mereka pilih, tetapi hadir begitu saja.

Rumah itu tetap berdiri dengan tiga penghuninya. Tetapi sejak malam natal itu, seolah hanya dinding yang bertambah usia. Hati mereka berhenti di tahun yang sama.

Komentar