Lambat laun, Oriana tumbuh menjadi pribadi yang pendiam, takut melakukan sesuatu yang baru, dan haus akan kasih sayang orang tua. Sekarang ia berpisah rumah dengan Jansen. Setelah lulus SMP, Jansen memutuskan untuk masuk SMA Taruna, sekolah yang mengharuskan murid-muridnya tinggal di asrama. Ia hanya pulang setiap tiga bulan sekali, tinggal di rumah selama seminggu, lalu pergi lagi. Jadilah sekarang hanya Oriana dan ibu yang tinggal di rumah, karena bibi datang hanya untuk membantu dan pulang setiap harinya.
Pernah suatu ketika, saat Jansen bersiap kembali ke sekolah, ia berkata pada Oriana di depan gerbang rumah.
“Dek, nanti kalau kamu kenal dengan yang namanya jatuh cinta, jangan naruh semua harapan sama orang itu, ya. Kasih tahu kakak siapa pun orangnya.”
Oriana paham, meski interaksi mereka sedikit dan seadanya. Setelah SMP, mereka jarang sekali bertukar cerita. Tapi setiap kali Oriana bersalah atau bertengkar dengan ibu, Jansen selalu menjadi penengah. Ia tak pernah menyalahkan Oriana, tak pernah menghakimi. Dari situ saja Oriana tahu, bahwa kakaknya mencintainya.
Oriana masuk ke sekolah yang cukup terkenal di kotanya. Ia menjadi murid yang patuh aturan, tidak memodifikasi seragam seperti teman-temannya, tidak mengubah gaya rambut, tidak ikut arus. Ia menjunjung tinggi kedisiplinan, seperti kata ibu, ayah adalah tentara yang taat aturan. Ayah tak pernah membiarkan rambutnya panjang, sedikit saja, langsung dipangkas. Maka Oriana memakai rok selutut, baju longgar, kacamata tebal, dan rambut pendek berponi.
Sampai sekarang, ketika ia hampir masuk kelas dua, Oriana sama sekali tidak memiliki teman. Satu-satunya temannya saat SMP pindah ke luar kota. Dan Oriana tidak tahu cara memulai pertemanan dengan orang baru, dia bingung bagaimana cara mengajak orang berkenalan. Karena itu, ia sering dianggap sombong, jutek, dingin, bahkan pernah dirundung.
Saat dirundung, ia hanya diam. Tidak menangis, hanya berekspresi datar. Semua ia terima, asal jangan bawa-bawa orang tua. Tapi ketika perundungan itu menyentuh ibunya, Oriana berubah menjadi seseorang yang lain.
Suatu hari, Oriana ditarik oleh seseorang ke belakang koridor sekolah. Virda namanya, murid olimpiade, pendiam dan pintar di mata semua orang tapi iblis di mata Oriana. Dua temannya, Kelly dan Jule, selalu mengikuti ke mana pun Virda pergi.
Hanya karena pacar Virda pernah menolong Oriana saat pingsan ketika upacara, sejak itu Oriana menjadi target.
Di belakang sekolah, rambut Oriana ditarik hingga rontok, pipinya ditampar sampai hidungnya mengeluarkan darah. Kata-kata seperti “anjing,” “lonte,” “gatel,” sudah menjadi makanan sehari-hari Oriana ketika berhadapan dengan mereka.
Oriana pernah mengadu ke guru, tapi tak dipercaya. Virda murid berprestasi dan baik di mata orang-orang tidak mungkin melakukan itu.
“Lo itu cuma anak yatim,” ucap Virda tiba-tiba, wajahnya mendekat.
“Ibu lo janda murahan, tiap hari godain suami orang.”
Ucapan itu membuyarkan lamunan Oriana. Ibu murahan?
Sudah pernah Oriana bilang dalam hatinya , ia tidak apa-apa dihina, dicaci, dimaki, asal jangan menyentuh ibunya.
Dengan amarah yang naik sampai ubun-ubun dan teriakan,
“anjing kamu!”
Oriana melawan Virda. Mereka saling jambak, saling pukul. Mungkin karena kemarahannya yang besar, kekuatan Oriana juga muncul sebesar itu. Kelly dan Jule lari mencari bantuan ketika melihat Virda kewalahan.
Saat guru-guru tiba, Virda babak belur. Dan Oriana dijadikan kambing hitam.
“Pak, Orin ngancam saya supaya jangan deket-deket sama pacar saya sendiri. Kalau enggak, dia mau bunuh saya,” ujar Virda, menangis dramatis.
Bertepatan dengan itu, ibu Oriana tiba. Ia kaget melihat anaknya. Ini pertama kalinya Oriana membuat masalah.
Kejadian itu selesai di ruang BK. Oriana dan Virda sama-sama diskors dua hari.
Di perjalanan pulang, ibu tidak bicara sama sekali. Ia hanya memandang jalan di depan mobil, sesekali mengusap air mata. Oriana melihatnya, tapi ia bingung harus bicara apa. Ia membalas karena Virda menghina ibu, ibu yang membesarkannya sendirian sejak kecil.
Sesampai rumah, ibu akhirnya meledak.
“Kamu kalau nggak bisa jadi orang yang membanggakan sekolah kayak gadis tadi, jangan bikin masalah! Jangan pacaran yang nggak ada gunanya itu!”
“Ibu capek membesarkan kamu sendirian dari kecil, tapi kamu besarnya malah berkelahi gara-gara cowok?!”
Oriana hanya diam, tak berani membantah.
“Mulai hari ini, ibu nggak mau lagi dipanggil ke sekolah karena masalah kamu. Ibu cuma mau dipanggil kalau kamu menang juara! Kayak KAKAK! Sekarang masuk kamar!”
Oriana bergegas masuk kamar, air mata menetes deras. Ia tidak marah pada ibu. Tidak kesal. Ibu benar. Seharusnya ia menjadi gadis pintar, bukan gadis bodoh yang hanya diam.
Tanpa disadari, Jansen menyaksikan semua itu dari depan pintu kamarnya. Ia melihat ibu menangis di ruang tamu, berbicara sendiri setelah memarahi adiknya. Jansen tahu ibu pasti kelepasan. Ibu tidak bermaksud.
Entah dari mana keberanian itu, Jansen mendekat pada ibu.
“Bu,” ucapnya pelan, lalu memeluk ibu. Seketika tangis ibu pecah dalam pelukannya.
“Ibu nggak sengaja, Kak… ibu nggak bermaksud lukai hati adik. Ibu bingung harus gimana… kasihan Orin, dia pasti sedih…”
Suara ibu gemetar. Jansen mengangguk, lembut.
“Gak apa-apa, Bu. Nanti aku bicara sama adik, ya. Sekarang ibu istirahat dulu.”
Ia mengantar ibu ke kamar, lalu menuju kamar Oriana sambil membawa nampan makan malam.
Saat pintu terbuka, Oriana masih meringkuk dalam selimut. Isak tangisnya sayup terdengar. Jansen duduk di tepi ranjang.
“Dulu waktu kamu kecil, aku marah banget sama kamu, dan nggak mau anggap kamu adik kalau di rumah,” ucap Jansen pelan.
“Kamu tahu, kenapa?”
Tidak ada jawaban. Hanya sunyi.
“Karena saat kamu lahir, semua perhatian tertuju ke kamu. Bahkan ayah pulang lebih cepat hanya untuk main sama kamu. Itu yang bikin aku marah.”
Oriana tetap diam, tapi Jansen melanjutkan.
“Pernah waktu kamu ulang tahun pertama. Temanku ngejek kamu. Katanya kamu jelek waktu ketawa, giginya cuma dua. Mereka semua ketawa. Entah kenapa aku nggak suka. Aku marah. Aku nampar mereka.”
Perlahan selimut membuka. Mata Oriana basah, menatap kakaknya.
“Setelah dipisahin sama ayah, ayah nggak marah ke aku. Dia cuma bilang ‘Nggak apa-apa kalau kamu marah untuk seseorang. Artinya kamu sayang sama orang itu.’ Sejak itu aku mulai nerima kamu. Kamu adik aku, satu-satunya.”
Oriana memeluk Jansen dari samping, tangisnya kembali pecah, kali ini lebih tenang.
“Jadi, aku nggak minta kamu cerita kenapa kamu berantem hari ini,” ucap Jansen, mengusap kepala adiknya. “Aku tahu, kamu bukan anak nakal.”
“Mereka bilang ibu janda murahan, Kak…” suara Oriana pecah. “Aku nggak apa-apa kalau dihina. Asal jangan ibu…”
Jansen terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis.
“Kamu nggak boleh diam kalau ada yang jahat sama kamu. Kamu harus lawan, biar orang nggak semena-mena. Tapi kamu harus tahu juga kapan harus melawan, kapan harus diam.”
Ia menarik Oriana ke pelukannya.
“Kakak bangga sama kamu. Kamu keren, Dek.”
Oriana memang tidak punya sosok ayah, tetapi ia punya Jansen, sosok yang tumbuh menjadi tameng barunya di hidup yang tidak mudah.
Komentar
Posting Komentar