Karena aku tidak sempat menonton pementasan drama angkatan 2022, akhirnya aku memilih untuk nonton Netflix saja. Waktu lagi scroll, perhatianku tertuju pada film Sihir Pelakor, yang sebelumnya tayang di bioskop sekitar bulan Juli dan baru masuk Netflix sejak awal Desember. Karena genrenya horor, awalnya aku tidak terlalu tertarik. Apalagi setelah melihat rating Google-nya yang berada di angka 6,1/10, rasanya film ini bakal biasa saja, setengah seru setengah enggak.
Akhirnya, aku memutuskan untuk membaca beberapa ulasan penonton terlebih dahulu. Dari situ aku tahu kalau film ini diangkat dari kisah nyata yang sempat viral lewat podcast RJL. Karena penasaran, aku memilih untuk mendengarkan podcast-nya dulu sebelum menonton filmnya.
Setelah menonton podcast dan filmnya, jujur saja, ceritanya cukup “kena”. Film ini seolah menunjukkan bahwa manusia bisa jauh lebih kejam dibandingkan hal-hal yang selama ini dianggap menyeramkan. Ceritanya juga terasa seperti pengingat bahwa tidak ada kejadian yang benar-benar luput dari pengawasan Tuhan.
Namun, jika dibandingkan, versi podcast dan filmnya ternyata dibuat dengan alur yang cukup berbeda. Beberapa bagian di film terasa lebih dihaluskan, padahal kisah aslinya di podcast jauh lebih gelap dan menyeramkan. Dalam podcast RJL, rangkaian kejadiannya berlangsung cukup panjang, sekitar tahun 2001 hingga 2007. Sementara di film, keseluruhan cerita dirangkum hanya dalam rentang waktu 2001 sampai 2003.
Karena pemadatan waktu tersebut, alur film terasa agak terburu-buru dan membuat beberapa adegan penting yang di podcast terasa sangat “epic” justru terlewat. Selain itu, ada cukup banyak perubahan yang dilakukan oleh penulis. Salah satu yang paling mencolok adalah bagian pertapaan. Dalam cerita aslinya di podcast, Vita sebagai tokoh utama diceritakan bertapa selama tiga hari empat malam di dalam goa karena dendam dan keinginannya untuk membunuh ayahnya. Namun di versi film, adegan tersebut diubah sehingga yang melakukan pertapaan justru sosok pelakor, dengan tujuan untuk merebut ayah Vita.
Secara keseluruhan, film Sihir Pelakor menurutku tetap tergolong bagus dan mampu menghadirkan rasa tegang. Namun, film ini bukan tipe horor dengan banyak hantu atau jumpscare, melainkan lebih fokus pada unsur santet dan tekanan psikologis. Karena itu, filmnya terasa lebih aman dan cocok untuk penonton yang tidak terlalu menyukai horor ekstrem, meskipun bagi yang sudah mendengar podcast-nya, versi film ini mungkin terasa kurang dalam dan tidak seintens cerita aslinya.
Kalau dilihat dari komentar di berbagai media sosial seperti TikTok, Instagram, X, YouTube, sampai kolom komentar Netflix, respons penonton terhadap Sihir Pelakor memang beragam. Banyak yang tertarik karena film ini diangkat dari kisah nyata yang sebelumnya viral di podcast RJL. Ada yang merasa ceritanya relate dan emosional, tapi ada juga yang menilai horornya tidak terlalu menyeramkan dan lebih terasa dramanya.
Komentar
Posting Komentar