Iyan adalah jatuh cinta dan patah hati yang terus aku temui berulang kali. dan bodohnya aku tetap senang mengulangnya hingga ribuan kali. karena pada hakikatnya, ia bukan milikku, dan aku harus belajar merawat batas-batas yang sejatinya telah berkelindan sejak mula.
Andaikan waktu sudi berkelakar dan kembali pada titiknya, aku tetap akan memilih jejak yang
sama.
Menjumpainya, menapaki berbagai fase yang saling bersinggungan, meski akhirnya kami tidak dituntun pada tujuan yang serupa.
Setidaknya, kami pernah menautkan sebuah prolog yang indah. Mengenalnya bukanlah penyesalan, melainkan penyelesaian yang rumit, yang tetap kupeluk dengan rela. Kemarin ayahku bercerita bahwa dulu lelaki yang pernah melamarku waktu aku lulus sma sudah lamaran dan hendak menikah tahun depan, lalu kenapa jawabku. toh dia sudah bertemu jodohnya. ibuku tiba-tiba ngomong, "itta lagi nunggu orang yang di Merauke pulang" katanya. raut ayahku langsung berubah, dia bilang "kmu nih kayak gada cowo lain ja".
aku suka Iyan, aku sayang dia, aku terus mendoakan agar hidupnya indah dan bermakna, tapi aku juga tau batasan, aku dan dia tidak akan pernah bisa menjadi kami selamanya. sekarang aku hanya mengikuti alur yang dibawa semesta. entah nanti aku akan dibawa semesta jatuh bersama iyan atau malah dibiarkannya kami bersama, meski mustahil sekali. sekarang Iyan sudah tiba di kota tempatnya bekerja, Wanam namanya. desa kecil diperbatasan antara Papua Selatan dan Papua Nugini. iya, dia tugas di perbatasan, seperti yang kubilang sebelumnya. dia tiba kemarin disana, dan langsung beres-beres. sejak kemarin dia tidak berbicara banyak hal. dia hanya mengatakan dia lelah habis beres-beres, tidur banyak, dan bersyukur karena ada tempat tinggal dan tidak tidur di tenda. aku harap dia selalu dalam keadaan sehat. aku memang bukan prioritasnya, tapi dia adalah salah satu nama yang tidak tertinggal dalam doaku.
Komentar
Posting Komentar