Laksana kursi di sudut senyap,
didatangi kala penat menyergap,
ditinggalkan saat kuat menguap.
Laksana payung kala hujan berderai,
diraih ketika langit mengurai,
terlupa saat mentari kembali terbit dan ramai.
Di antara gelak yang berkelakar,
canda yang melawak tanpa sadar,
keberadaan hadir sebatas penawar.
Tak pernah diajak melangkah seiring,
hanya diminta bertahan dan mengiring,
hingga sunyi berkelindan dalam batin yang kering.
Maka perlahan terkuak makna hakikat,
bukan ditinggalkan yang paling menjerat,
melainkan dikenang sebatas alat.
Komentar
Posting Komentar