Yudo, anak Purbaya, sempat nyinggung soal ajakan Pandawara dan beberapa influencer yang ngomong soal “beli hutan”. Katanya, “Dikelola pemerintah aja masih parah, apalagi kalau dikelola rakyat.” Menurut dia, ide patungan buat beli hutan itu bisa jadi masalah besar di masa depan.
Dan memang ada masuk akalnya. Di Indonesia, tanah sekecil apa pun bisa jadi rebutan antar ahli waris, apalagi kalau tanahnya luas. Apalagi konsep “beli hutan” ini sebenarnya kan beli tanah dulu, baru ditanamin pohon sampai jadi hutan. Nah, biar sah secara hukum, pasti ada satu nama yang bakal dipakai buat sertifikat. Misalnya aja, atas nama Fery Irwandy.
Mungkin 10–20 tahun ke depan masih aman, karena selama Fery Irwandy masih hidup, dia masih bisa jelasin kalau namanya cuma dipakai sebagai perantara. Tapi kita mikir jangka panjang aja, gimana kalau 50–60 tahun ke depan saat dia sudah nggak ada? Tanah itu berpotensi diambil alih keluarganya, lalu bisa berubah jadi tanah sengketa. Apalagi kalau banyak orang yang dulu donasi dan merasa punya hak juga atas tanah tersebut.
Makanya, ada yang bilang cara paling aman itu bukan beli tanahnya, tapi cukup beli pohonnya. Fokus ke penanaman pohon, bukan ke kepemilikan lahan atau hutan.
Di sisi lain, ada juga pendapat yang bilang kalau omongan para influencer soal “beli hutan” itu sebenarnya cuma sindiran atau kalimat sarkas ke pemerintah.
Komentar
Posting Komentar