Karena semalam aku membicarakan pernikahan dengan emosi yang belum sepenuhnya jinak, dan sebelum tidur kudengarkan lagu pengantar yang setiap hari menemaniku Titik Nadir by Kahitna, maka malam itu pikiranku melanjutkan percakapannya sendiri lewat mimpi.
Aku bermimpi sedang bersiap untuk menikah.
Segalanya tampak besar dan tertata. Persiapan yang matang, wajah-wajah yang menanti, harapan yang berbaris rapi menuju diriku. Seolah peristiwa itu bukan hanya milikku, melainkan juga milik banyak orang yang ikut menitipkan doa dan harap.
Namun di tengah hiruk itu, pikiranku tiba-tiba berhenti pada satu sosok.
Satu manusia yang kehadirannya tak tampak, tetapi suaranya jelas bergaung di batinku.
Dan di sanalah pikiranku mulai berbicara sendiri,
"ternyata akulah yang lebih dahulu tiba di pernikahan. ternyata dialah yang menyaksikanku duduk di pelaminan dari kejauhan. ternyata tempatnya bukan di sisiku, melainkan di antara para undangan.
dan ternyata, dialah yang lebih dahulu bersedih."
Ia mengirimiku pesan, "selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia, semoga bahagia, semoga bahagia."
Aku hanya membalas singkat, "terima kasih."
Sampai pada titik itu, aku bertanya pada diriku sendiri, "apakah aku masih mencintainya?"
Di hari pernikahan, ia datang. Duduk di barisan tamu.
Ia mengenakan kemeja putih, berdasi, dengan celana berwarna mahogany. Saat aku melangkah menuju pelaminan, ia merekamku. Wajahnya tampak bahagia melihatku. Seperti biasa, tatapan kekagumannya selalu terlihat padaku.
Ketika aku tiba, mata kami bertemu.
Ia tersenyum, dan bibirnya bergerak pelan, seolah merapalkan doa-doa untukku, tanpa suara, tanpa tuntutan, tanpa sisa hak apa pun selain harap yang tulus.
Komentar
Posting Komentar