Selama sebulan terakhir bekerja, aku banyak bertemu manusia-manusia baru.

Yang pertama bernama Dita. Postur wajahnya tegas, sehingga sekilas tampak judes. Ia anak bungsu, yang hidupnya penuh larangan dari orang tua, tidak boleh berpacaran, tidak boleh nongkrong, dan banyak “tidak” lainnya. Larangan-larangan itu justru menumbuhkan rasa ingin tahu dalam dirinya. Ia mulai mencoba hal-hal yang selama ini dibatasi, berpacaran, bekerja di tempat ramai, dan mengenal dunia yang pelan-pelan ingin ia sentuh.

Kedua, Angel. Ia termasuk perempuan polos. Ibarat diberi cokelat beracun, mungkin tetap akan ia makan tanpa curiga. Angel adalah anak yang jujur, terlalu jujur. Kejujuran itu sering membuatnya menjadi sasaran omelan pelanggan, bahkan bos kami. Tapi dari kejujurannya, aku belajar bahwa tidak semua kebaikan datang dengan perlindungan.

Ketiga, Zella. Namanya cantik, namun tak secantik takdir yang diberikan padanya. Ia anak tunggal, yang seharusnya disayang sepenuh hati, tapi justru menyimpan kisah paling menyedihkan. Di awal kuliah, ia diberi kabar bahwa mendapat bantuan KIP. Namun setelah satu semester berlalu dan nilai diinput, nilainya tak kunjung keluar. Ternyata, ia divonis belum membayar UKT sebesar dua juta rupiah. Ia bingung harus meminta bantuan kepada siapa. Orang tuanya bercerai, dan tak satu pun benar-benar membawanya pulang. Pada akhirnya, ia berniat berhenti kuliah.

Keempat, Anggun. Ia anak yang lambat dan kurang cepat tanggap. Namun ia selalu berusaha membantu, terlibat, dan mengejar ketertinggalannya. Usianya paling muda diantara kami, baru semester dua. Ia bekerja bukan karena ingin, tapi karena ingin meringankan pundak ibunya yang lelah.

Dari semua manusia yang kutemui, aku belajar beberapa hal penting, kita tidak berhak menghakimi manusia lain.
Jangan menjadi alasan seseorang tidak makan hari ini.
Jangan menjadi alasan seseorang menangis sendirian di toilet.
Hiduplah sebagai manusia yang memanusiakan manusia lain.

Komentar