15 Sya'ban 1447H

Tuhanku, hari ini aku datang bukan dengan keranjang permintaan yang penuh.
Aku hanya ingin hatiku kembali utuh seperti fajar yang pelan menyatukan cahaya, pikiranku setenang permukaan danau yang tak terusik angin, dan langkahku seteguh akar yang mencengkeram bumi, meski aku belum tahu di mana ujung perjalanan ini berlabuh.

Jika ada bagian hidupku yang sedang runtuh perlahan, seperti dinding rapuh yang digerus waktu, sembuhkanlah luka-luka yang bahkan tak mampu kusebutkan namanya. Dekaplah aku saat lelah menjadi kuat menjelma beban yang nyaris meluruhkan bahuku.

Aku tak memohon hidup yang sempurna, sebab kesempurnaan hanyalah fatamorgana di padang harap. Aku hanya ingin belajar menerima setiap jalan yang Engkau bentangkan, meski berliku seperti sungai yang mencari lautnya, tanpa terus-menerus bertanya mengapa bebannya terasa seberat langit yang jatuh ke dada.

Ajari aku merawat luka tanpa membencinya, seperti bumi yang tetap menumbuhkan bunga di atas tanah yang pernah disakiti hujan badai. Ajari aku menerima takdir tanpa kehilangan daya untuk melangkah, dan percaya bahwa tidak semua doa harus segera menjelma nyata untuk tetap bermakna—sebab sebagian harap tumbuh diam-diam di tanah sabar.

Dan jika hari-hari cerah masih jauh di ufuk waktu, biarlah hatiku tinggal dalam kesabaran, seperti malam yang setia menunggu pagi. Karena aku percaya, di balik sunyi yang panjang, Engkau tengah menenun sesuatu yang baik untukku, sehalus cahaya yang lahir dari gelap.

Aaaaaaamin.

Komentar