Antara Cinta dan Karier: Kalahkan Salah Satunya, atau Kehilangan Keduanya

Ada satu keyakinan yang sering diulang oleh beberapa manusia, bahwa cinta dan karier tidak selalu bisa berjalan beriringan. Bahwa pada akhirnya, seseorang akan dipaksa memilih. Dan pilihan itu tidak pernah benar-benar terasa adil, karena apa pun yang dipilih, selalu ada sesuatu yang harus dikorbankan. Kesepian, kehilangan, dan ruang kosong yang dulu diisi oleh sesuatu yang indah, menjadi harga yang harus dibayar. Mutlak!

Katanya, jika keduanya dipaksakan berjalan bersamaan, salah satunya akan runtuh. Bahkan mungkin keduanya. Seolah hidup tidak memberi ruang bagi manusia untuk memiliki semuanya sekaligus. Seolah menginginkan masa depan dan cinta yang berhasil dalam waktu yang sama adalah bentuk keserakahan yang tidak diizinkan dan enggan direstui semesta.

Ironisnya, orang yang kita pikir akan menjadi tempat pulang, yang kita percaya akan berdiri di samping dan mendukung semua yang sedang kita bangun, bisa saja menjadi orang pertama yang memilih pergi. Bukan karena tidak peduli dan sudah tidak memiliki rasa, tapi karena mereka percaya bahwa perpisahan adalah cara untuk menyelamatkan sesuatu, entah menyelamatkan diri mereka, menyelamatkan kita, atau menyelamatkan mimpi yang belum tercapai. Mereka memilih memutuskan, tanpa memberi kesempatan bagi kita untuk ikut memilih.

Padahal, yang paling menyakitkan bukanlah beban yang harus dihadapi, tapi perasaan tidak dilibatkan. Tidak diberi ruang untuk berkata, “aku tetap mau.” Rasanya seperti tidak dipercaya untuk bertahan dan membersamai. Seolah kita dianggap tidak cukup kuat untuk berjalan bersama melewati masa sulit. Seolah cinta kita tidak cukup dewasa untuk mengerti bahwa hidup memang tidak selalu mudah.

Di sisi lain, hidup terus berjalan dengan caranya sendiri. Ada orang yang dilancarkan karier dan rezekinya, tapi masih merasa kosong dalam hatinya. Ada yang menemukan cinta, tapi masih berjuang menemukan arah hidupnya. Ada yang belum mendapatkan keduanya, tapi memiliki kesehatan yang utuh. Ada pula yang merasa kehilangan banyak hal, tapi masih dikelilingi oleh orang-orang yang tidak pernah pergi. Setiap orang memiliki porsinya masing-masing. Tidak selalu lengkap, tidak selalu bersamaan, tapi selalu ada sesuatu yang tetap tinggal membersamai.

Dan mungkin, pada akhirnya, hidup bukan tentang memiliki semuanya dalam satu waktu. Tapi tentang menerima bahwa beberapa hal datang lebih dulu, dan beberapa lainnya datang setelah kita belajar menjadi cukup kuat tanpa mereka.

Karena pada akhirnya, hidup memang terkadang memaksa kita untuk mengalahkan salah satunya, cinta atau karier, sebelum keduanya hancur. Dan yang paling menyakitkan bukanlah pilihan itu sendiri, tapi kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah memberi kita kesempatan untuk memilih bersama untuk tetap menetap dirumah yang sama, untuk tetap berjuang, dan untuk tetap percaya bahwa kita bisa melewati semuanya tanpa harus saling melepaskan.

Di titik itu, kita akhirnya mengerti, bahwa tidak semua yang kita cintai bisa tetap tinggal. Bahwa tidak semua yang kita perjuangkan bisa berjalan bersamaan. Dan ketika dunia terasa goyah hampir runtuh, yang benar-benar dapat menolong manusia hanyalah iman, pendidikan, dan karier, hal-hal yang tetap mendarah daging, bahkan ketika yang lain memilih pergi.

Komentar