Ibu terkadang terasa begitu menyebalkan.
Menyebalkan hingga membuat darah mendidih dan emosi meluap tanpa kendali. Ia bisa mempermasalahkan hal-hal kecil, mengatur ini dan itu seolah anaknya masih belum memahami dunia. Segalanya seakan harus berjalan sesuai kehendaknya.
Ada saat-saat dimana seorang anak ingin berkata, “Aku sudah dewasa.”
Pertanyaan-pertanyaannya yang berulang setiap hari,
“Sudah makan?”
“Pergi dengan siapa?”
“Mengapa belum pulang?”
yang baginya adalah bentuk perhatian, kerap terasa seperti interogasi bagi seorang anak yang sedang belajar menjadi manusia yang mandiri. Ditambah lagi perbandingan-perbandingan kecil yang mungkin terucap tanpa maksud melukai, tetapi menyentuh batin anaknya yang sensitif. Rasanya seperti usaha yang dilakukan tak pernah benar-benar cukup.
Ada keinginan untuk dimengerti tanpa harus menjelaskan panjang lebar.
Ada harapan untuk dipercaya tanpa terus-menerus membuktikan diri.
Namun semakin waktu berjalan, semakin dewasa cara pandang itu tumbuh.
Tanpa disadari, selama ini ibu sering menerima perlakuan yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Bahkan dari lingkaran yang seharusnya menjadi tempat berlindung, seperti perlakuan keluarga ayah. Ibu lebih sering memilih diam, menahan, dan menguatkan diri sendiri. Ia menyembunyikan batin yang mungkin terluka, agar anaknya tidak ikut merasakan pahitnya dunia.
Barangkali segala kecerewetannya bukan semata keinginan untuk menguasai, melainkan cara sederhana seorang ibu melindungi. Dunia sudah cukup keras kepadanya dan ia tidak ingin dunia yang sama melukai anaknya.
Ketika ibu berkata,
“Belajarlah melakukan semuanya sendiri,”
sesungguhnya ia sedang mewariskan hal paling berharga, kemandirian, tanggung jawab, dan keteguhan. Bukan harta yang ia wariskan, melainkan kemampuan untuk tetap berdiri meski bumi terasa tidak ramah untuk diri.
Sering kali seorang anak merasa dirinya yang paling mencintai ibu. Namun nyatamya, cinta ibu jauh lebih luas. Seluas bumi dan semesta. Ia lebih sabar, lebih banyak berkorban, dan lebih sering meletakkan kepentingan anaknya di atas kepentingannya sendiri.
Memang, bersama ibu mungkin ada banyak perdebatan dan adu mulut yang terjadi.
Namun tanpa ibu, dunia seorang anak dapat terasa berantakan.
Sebab, hati seorang ibu tidak akan pernah ditemukan pada manusia mana pun.
Mari ucapkan doa sederhana untuk ibu,
"Semoga ibu diberi umur yang panjang dan kesehatan yang utuh.
Semoga suatu hari nanti, segala perjuangannya terbalas oleh keberhasilan anak yang ia doakan."
be gentle to your mom yaa, it's her first time living life too 🤍
BalasHapus