Covid-19 sudah direncanakan sejak tahun 2010 oleh Rockefeller Foundation, disimulasikan pada tahun 2015, dan dimainkan pada tahun 2020 di Indonesia.
Namun, di luar negeri sudah disosialisasikan sejak tahun 2019, dengan tujuan percepatan program digitalisasi.
Bapak tersebut mengatakan, mengapa “Covid” memiliki akhiran “id”, karena berasal dari kata identity digital. Menurutnya, Covid-19 yang terjadi lima tahun lalu adalah “plandemik”, bukan “pandemik”.
Selama ini, kita mungkin bertanya, mengapa namanya Covid-19? Mengapa bukan nama lain? Seblaque misalnya, mengapa harus “Covid”?
Beliau mengatakan bahwa “Covid-19” adalah singkatan dari certified of vaccine identity digital. Angka 19 berasal dari urutan abjad, yaitu 1 = A yang berarti artificial, dan 9 = I yang berarti artificial intelligence.
Hal ini, menurutnya, terbukti dari siapa pun yang sudah divaksin akan menerima sertifikat digital, bukan sertifikat fisik. Sertifikat tersebut menjadi identitas digital, misalnya untuk bepergian atau mendaftar pekerjaan pada saat itu. Dengan demikian, “mereka” mengontrol manusia melalui sistem. Artinya, siapa pun yang sudah mendapatkan vaksin akan memperoleh sertifikat dan akan dikontrol oleh Artificial Intelligence (AI).
Singkatnya, dari podcast panjang Pak Dharma dengan Dr. Richard, yang aku tangkap adalah bahwa Covid ini hanyalah rekayasa “mereka” agar teknologi lebih terlihat, dan agar AI segera muncul lebih cepat ke permukaan. Itulah sebabnya, sejak Covid, semuanya beralih ke digital.
Contoh sederhana adalah kebiasaan berbelanja. Saat pandemi, masyarakat terpaksa menggunakan online shop karena tidak bisa bepergian ke mana-mana. Sebelum pandemi, banyak pedagang yang tidak menerima sistem online, tetapi sejak pandemi, mau tidak mau semuanya harus dilakukan dari rumah.
Contoh lain adalah perubahan pola pikir manusia. Sebelum adanya Covid, Google ataupun AI jarang digunakan dalam dunia pendidikan. Semua terbiasa belajar dengan bantuan buku. Jika ada materi yang sulit dipahami, siswa atau mahasiswa pergi ke perpustakaan untuk belajar sampai mengerti, sehingga menjadi pintar dengan pemikiran yang terbuka.
Namun sekarang, hampir semua orang mengalami penurunan literasi, malas membaca buku, bahkan malas belajar. Semua terasa instan. Cukup membuka AI, maka hasilnya langsung tersedia. Tanpa disadari, kehidupan setelah Covid-19 ini memperburuk IQ manusia. Sekarang, semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing, sibuk dengan smartphone pintarnya, bahkan sampai lupa kepada Tuhan. Jika dikaji lebih dalam, hal ini akan berkaitan dengan agama. Namun, untuk masalah agama, aku tidak berani mengkaji lebih jauh.
Aku menulis ini bukan untuk menggiring opini agar pembaca percaya, tetapi semuanya terasa masuk akal bagiku. Aku mencari artikel-artikel tentang Covid-19 adalah rekayasa, tetapi tidak menemukan satu pun. Semua artikel mengatakan bahwa hal tersebut adalah hoaks. Persis seperti yang dikatakan beliau dalam podcast-nya, bahwa pemikiran tentang hoaks ini juga sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari.
Selain itu, mengapa vaksin diberikan secara gratis hingga tiga kali penggunaan? Logistiknya dari mana, dan uangnya dari mana? Uang siapa? Mengapa bisa gratis?
Jika benar Covid ini adalah buatan yayasan tersebut, maka secara otomatis dana pembuatan vaksin juga berasal dari yayasan tersebut. Dari mana asal uangnya? Pasti ada pemasoknya. Mengapa “mereka” begitu peduli dengan kasus Covid-19 yang baru muncul? Dana yang dialokasikan pun pasti sangat besar.
Jika benar peduli terhadap keberlangsungan hidup manusia, mengapa tidak membantu mereka yang mengalami krisis ekonomi di Sudan?
Singkatnya, Covid-19 dibuat agar AI semakin terlihat di permukaan bumi.
Lalu, mengapa “mereka” sangat ingin AI terlihat di muka bumi?
Dari sudut pandangku sebagai mahasiswa awam, “mereka” ingin manusia semakin menggunakan AI untuk menutupi kejahatan “mereka” suatu saat, naudzubillah.
AI diperkenalkan secara perlahan. Semakin hari, semakin berkembang. Bahkan sekarang, kita bisa mengedit gambar menggunakan AI. Suatu saat, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, mereka bisa saja menyebutnya sebagai hoaks atau mengatakan bahwa sumbernya adalah AI.
Selain itu, setelah Covid-19, hampir semua aktivitas dilakukan secara digital dan hampir semuanya menggunakan teknologi, seperti yang telah aku bicarakan sebelumnya. Kita bertransaksi serba digital, memesan makanan secara digital, menabung secara digital. Semuanya serba canggih, hingga rasanya kita telah ketergantungan pada teknologi.
Lalu, bagaimana jika suatu saat, itu semua menghilang, teknologi dimatikan dan listrik padam?
Internet tidak ada, dan berbagai sistem digital tidak dapat digunakan. Tidak ada lagi aktivitas berkebun karena menggunakan teknologi, sudah tidak bisa memasak sendiri, bahkan tidak ada uang secara fisik di tangan, karena semuanya telah dilakukan secara digital. Kita telah terpengaruh dan bergantung pada teknologi.
Selama 14 hari pertama, kedua, dan ketiga, mungkin kita masih bisa beradaptasi. Pasokan makanan dan minuman masih tersedia, sehingga kehidupan masih dapat berjalan meskipun dengan keterbatasan.
Namun, memasuki hari keempat belas berikutnya, yaitu Minggu keempat, kelima, keenam, dan ketujuh, di beberapa daerah mulai terjadi krisis makanan dan minuman. Manusia hanya dapat mengandalkan sumber alam, seperti sungai atau gunung, untuk bertahan hidup.
Kemudian, pada minggu kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh, krisis makanan semakin meluas dan terjadi di berbagai tempat. Pemerintah mengalami kebingungan dalam menghadapi situasi tersebut. Banyak orang jatuh sakit karena mengonsumsi makanan dan minuman yang tidak layak. Dalam kondisi kacau, pemerintah mungkin hanya mampu memprioritaskan keselamatan keluarganya sendiri.
Pada akhirnya, kita dipaksa berlutut kepada sesuatu yang tidak seharusnya, demi makanan. Demi bertahan hidup, manusia bisa rela melakukan apa saja, hingga melupakan Tuhan.
Wallahu a’lam.
katakanlah ini benar, lalu kita sebagai "manusia awam" ini harus bagaimana?dan masihkah akan bergantung dengan para petinggi² negara?
BalasHapustapi kalau bisa jangan dulu deh, soalnya jadi WNI aja udh berat ditambah spekulasi ini... ya selamat tinggal dunia๐๐๐ป