Kadang kita merasa sedang baik-baik saja. Hari berjalan seperti biasa. Tidak ada yang membuat jengkel, tidak ada yang menyedihkan. Bahkan kita produktif, sibuk di siang hari, dan ada banyak hal baik yang terjadi.
Tapi saat malam datang, saat tubuh mulai meminta untuk rehat dari kejamnya bumi, dan telinga yang meminta di lantunkan nyanyian-nyanyian penenang kalbu. Alih-alih memutar lagu upbeat romantis, kita justru memilih memutar lagu yang sendu. Lagu yang pelan. Lagu yang sakitnya menembus dada.
Bukan karena sedang sedih, tapi karena ingin saja. Karena suka rasanya.....
Dan di situ, sebenarnya emosi kita sedang bekerja.
Dalam psikologi, ini disebut Emotional Regulation, yaitu kemampuan manusia untuk mengatur dan menjaga emosinya agar tetap seimbang. Bukan hanya saat kita terluka, tapi juga saat kita sedang baik-baik saja.
Karena sebenarnya, manusia jarang benar-benar netral secara emosional. Selalu ada sesuatu yang tersisa di dalam diri, walau kita tidak menyadari sepenuhnya. Rasa lelah setelah hari yang panjang. Tegang yang tidak sempat dilepaskan. Atau sekadar energi yang perlahan turun setelah seharian bergerak.
Dan tanpa sadar, kita mencari sesuatu yang bisa menyesuaikan ritme itu.
Musik adalah salah satu caranya.
Psikolog seperti menjelaskan bahwa manusia, sadar atau tidak, selalu berusaha mengelola emosinya. Kadang dengan menarik napas sebelum marah. Kadang dengan memilih diam. Kadang juga dengan memutar lagu tertentu, supaya batin terasa lebih tenang dan stabil.
Jadi ketika kita mendengarkan lagu sendu, seperti lagu NIKI dan Kahitna atau padahal kita tidak sedang galau, itu bukan sesuatu yang aneh. Itu bisa menjadi cara tubuh kita untuk menenangkan diri setelah hari yang padat. Menurunkan energi yang terlalu tinggi. Memberi ruang untuk refleksi. Atau sekadar menjadi pengantar tidur, agar hati dan pikiran bisa beristirahat tenang.
bubur janar, ulun dengar lagu sendu biasanya #izinn
BalasHapus