"Kasihan" Bagian dari Cinta

 Buya Hamka berkata, 

“Bentuk cinta paling tulus adalah jatuh cinta karena kasihan.”

Kasihan. Kata yang sering disalahpahami. Kata kasihan terdengar seolah-olah merendahkan, seakan cinta dibangun di atas rasa iba yang tidak setara. Padahal yang dimaksud bukanlah rasa kasihan karena menganggap seseorang lemah dan menyedihkan. 

Kasihan di sini diartikan empati yang dalam, perasaan yang membuat hati tidak tega melihat orang yang disayang terluka.

Dalam hubungan, rasa seperti ini justru penting. Bukan sekadar cinta yang menggebu-gebu, bukan hanya rasa kagum pada pikirannya atau ketertarikan pada parasnya. 

Tetapi ada hal yang membuat seseorang berpikir dua kali sebelum menyakiti. Ada kepedulian yang membuatnya ikut cemas saat pasangannya kesulitan, ikut sedih saat pasangannya disakiti, dan merasa tidak tega jika harus menjadi sumber luka.

Cinta bisa berubah arah. Ia bisa tumbuh, tapi juga bisa meredup. Ada kalanya cinta berpindah tanpa banyak penjelasan. Namun rasa kasihan yang lahir dari sayang berbeda. Ia membuat seseorang mempertimbangkan tindakanya. Berpikir lebih dalam sebelum bertindak,

"saat aku pergi, apakah dia akan hancur?"

"ucapanku bikin dia terluka gak ya"

Di titik ini, hubungan tidak lagi sekedar soal perasaan senang karena habis nonton bersama dan bahagia karena direstui keluarga. Ia menjadi tentang tanggung jawab emosional, tentang tidak tega meninggalkan seseorang sendirian menghadapi kurang yang ada didiri. Kasihan bukan berarti bertahan di sumber luka, tetapi tentang menjaga agar tidak dengan mudah menjadi alasan luka bagi orang lain.

Mungkin karena itu, kasihan bisa disebut sebagai level tertinggi dalam mencintai. Ketika rasa peduli tetap ada meski keadaan tidak sempurna. Ketika keinginan untuk melihatnya baik-baik saja lebih besar daripada ego untuk menang sendiri. 

Komentar

Posting Komentar