Ketika Satu Luka Membentuk Banyak Wajah


Di mata perempuan-perempuan yang hatinya telah terlanjur patah oleh seorang lelaki berseragam, seragam itu sering kali tidak lagi terlihat sebagai sekadar pakaian. Ia berubah menjadi bayangan yang membawa ingatan. Dari situlah muncul keyakinan bahwa semua lelaki berseragam adalah sama. Luka yang berasal dari satu manusia, perlahan melebar seperti noda tinta di atas kertas putih, menyebar diam-diam, hingga menutupi wajah banyak manusia lain yang bahkan tidak pernah ikut serta menyakiti.

Hati yang dipenuhi sakit, jika dibiarkan terlalu lama, akan berubah bentuk, seperti besi yang terus dipanaskan tanpa pernah didinginkan. Ia menjadi marah. Lalu marah itu tumbuh menjadi dendam. Dan dendam, perlahan, kehilangan arah. Ia tidak lagi memilih sasaran. Ia mulai menjelma dalam kata-kata yang merendahkan, mengata-ngatai latar belakang pendidikan, meremehkan penghasilan, bahkan merendahkan martabat. Bukan hanya kepada dia yang pernah melukai, tetapi kepada semua yang dianggap serupa. Seolah-olah satu luka telah memberi warna pada seluruh dunia.

Bukan untuk membela pihak lelaki, dan bukan pula untuk meniadakan luka yang pernah ada. Luka tetaplah nyata, dan perasaan tetaplah valid. Namun penting untuk diingat, bahwa satu manusia tidak pernah benar-benar mewakili manusia lainnya. Setiap orang berjalan dengan kisahnya sendiri, membawa beban dan harapannya sendiri, yang sering kali tidak terlihat oleh mata luar.

Kita tidak pernah tahu seberapa panjang jalan yang telah ia tempuh. Tidak pernah tahu berapa kali ia hampir menyerah, lalu memilih bertahan. Tidak pernah tahu berapa banyak pengorbanan yang telah ia dan orang tuanya berikan, mungkin ada doa yang dipanjatkan diam-diam setiap malam, mungkin ada lelah yang disembunyikan di balik senyum. Kita juga tidak pernah tahu berapa banyak air mata dan harapan yang menyertainya hingga ia berdiri di tempatnya sekarang.

Luka memang bisa mengubah cara kita memandang dunia, seperti kaca yang retak mengubah cara cahaya masuk. Namun luka tidak seharusnya mengubah kita menjadi seseorang yang melukai tanpa alasan. Karena pada akhirnya, tidak semua yang memakai seragam yang sama, memiliki hati yang sama. Dan tidak semua yang terlihat serupa, membawa cerita yang serupa pula.

Komentar