Kita hidup di sebuah zaman di mana krisis tidak selalu terlihat pada fisik, tetapi tumbuh diam-diam di dalam pola pikir manusia. Salah satu bentuknya crab mentality, kecenderungan untuk meragukan dan menjatuhkan, alih-alih mengapresiasi. Ketika seseorang berhasil melangkah lebih jauh, yang muncul bukan dukungan, melainkan kalimat-kalimat bernada meremehkan kayak,
“kok bisa?”
atau
“kan dia…”.
Seolah keberhasilan orang lain menjadi ancaman, bukan harapan.
Padahal, arah hidup manusia sangat ditentukan oleh dirinya sendiri, oleh cara ia berpikir, dan oleh keinginan yang ia tanamkan dalam batinnya. Ketika seseorang benar-benar menginginkan sesuatu dengan sungguh, pikiran dan tubuhnya akan bergerak menuju ke sana, membawanya lebih dekat ke tujuan. Sebaliknya, ketika seseorang telah merencanakan kegagalan dalam pikirannya, maka pada saat itu pula ia sedang membangun jalan menuju kegagalan itu sendiri. Karena pada akhirnya, dunia tidak mencari mereka yang hanya bergerak tanpa arah, tetapi mereka yang membentuk dirinya hingga layak untuk dicari.
Namun krisis pola pikir ini semakin dalam ketika manusia mulai kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Gawai yang seharusnya menjadi alat, perlahan berubah menjadi penguasa. Video-video pendek (tiktok, reels Ig dll) yang dikonsumsi tanpa henti menciptakan pembusukan yang tidak terasa, melemahkan kemampuan berpikir panjang, merusak fokus, dan menjauhkan manusia dari kesadaran utuh atas dirinya sendiri. Bahkan pagi hari, yang dahulu dimulai dengan doa dan kesiapan menghadapi kehidupan, kini sering dimulai dengan membuka layar, membiarkan pikiran didoktrin oleh arus informasi sejak detik pertama kesadaran.
Dalam kondisi seperti ini, manusia perlahan menjadi rapuh. Ketika tekanan hidup datang, ketika kebutuhan menjadi mendesak, manusia bisa sampai pada titik di mana ia terpaksa berlutut kepada hal-hal yang bukan seharusnya menjadi sandaran. Demi makanan. Demi bertahan hidup. Demi keberlangsungan hari esok. Hingga tanpa disadari, manusia dapat melupakan Tuhan, dan menggantinya dengan ketergantungan pada hal-hal duniawi.
Krisis pola pikir ini bukan hanya tentang individu, tetapi tentang arah aku, kamu dan keseluruhan manusia. Termasuk dalam hal kesetaraan, yang tidak akan pernah benar-benar terwujud tanpa adanya ruang. Karena tanpa ruang untuk tumbuh, manusia tidak akan pernah menjadi utuh. Dan tanpa kesadaran untuk menjaga pikirannya sendiri, manusia perlahan akan kehilangan kendali atas dirinya, bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia tidak lagi benar-benar sadar.
Wallahu a’lam.
(Parpol26)
Komentar
Posting Komentar