Sebagai makhluk bumi yang katanya rasional, kita pasti pernah merasakan kalau lagi suka sama seseorang, apapun yang dia lakukan atau posting itu pasti kita ngerasanya itu ngerujuk ke kita?
Padahal bisa jadi, itu cuma unggahan biasa. Tapi perasaan sudah lebih dulu mengambil alih logika:).
Nah, kecenderungan seperti itu disebut confirmation bias.
Confirmation bias adalah kecenderungan seseorang untuk hanya mempercayai hal-hal yang ia sukai atau ingin yakini. Bukan cuma percaya, tapi juga aktif mencari, mengingat, dan menafsirkan informasi yang menguatkan keyakinannya. Sementara informasi yang bertentangan justru diremehin, diabaikan, atau dicarikan alasan.
Misal nih, kita lagi suka sama seseorang terus apapun yang orang ini lakuin pasti kita ngerasanya itu ngerujuk ke kita.
Ketika dia mulai menunjukkan tanda-tanda red flag, cuek, datang dan pergi seenaknya, alih-alih berhenti dan bertanya pada diri sendiri, kita justru sibuk mencari pembenaran.
“Dia memang orangnya begitu.”
“Dia lagi sibuk, wajar kalau jarang kabar.”
Bukannya melakukan introspeksi, kita malah menumpuk dalih-dalih baru yang semakin menguatkan keyakinan awal. Ini seperti over positive thinking yang kelihatannya dewasa, padahal mah sebenarnya sedang menutup mata.
Dampaknya memang nggak selalu kelihatan. Confirmation bias ini kelihatan wajar, manusiawi dan seperti refleks, bukan kesalahan. Tapi pelan-pelan, ia bekerja seperti kabut tipis di kepala.Bukan menghalangi pandangan secara drastis, tapi cukup untuk membuat kita salah membaca arah.
Kita jadi sulit membedakan intuisi dan ilusi. Apa yang sebenarnya tanda peringatan, kita anggap ujian kesabaran. Apa yang seharusnya disikapi, malah kita maafkan tanpa syarat. Logika tetap ada, tapi suaranya dipelankan oleh perasaan.
Lebih jauh lagi (kata GPT), confirmation bias bisa membuat kita bertahan terlalu lama di tempat yang salah. Bukan karena tidak ada pilihan lain, tapi karena kita terus meyakinkan diri bahwa semuanya masih bisa dimaklumi. Kita bukan sedang mencintai orangnya, tapi mencintai versi yang kita bangun di kepala sendiri. hedeuh......
Dan pada akhirnya, yang paling lelah bukan hubungan itu melainkan diri kita sendiri. Karena tanpa sadar, kita terus bernegosiasi dengan kenyataan, sampai lupa bagaimana rasanya didengar oleh logika sendiri.
Komentar
Posting Komentar