Takut Pergi, Takut Bertahan

Kadang kita bertahan bukan karena masih yakin, tapi karena sudah terlanjur. Terlanjur lama, terlanjur capek, terlanjur berharap.

Ada rasa,
“sayang kalau ditinggal”
"takut kalau hal kayak gini nggak datang dua kali."

Jadi mundur terasa kayak nyia-nyiain semua usaha yang sudah kita keluarin. Iya kan?

Pola mikir kayak gini namanya sunk cost fallacy. Intinya, kita terus jalanin sesuatu yang sebenarnya sudah enggak bikin kita nyaman, cuma karena dulu kita pernah ngasih banyak waktu, tenaga, dan perasaan ke situ. Akhirnya, keputusan hari ini lebih dikontrol sama masa lalu, bukan sama apa yang kita butuhin sekarang.

Contohnya gampang ditemuin di hubungan. Kita bertahan bukan karena bahagia, tapi karena 
“udah sejauh ini.”
"orang lain gak mungkin nerima aku kayak dia."
"keluarga kami sudah kenal."

Udah lama nunggu, udah keburu capek. Pas mulai terasa toxic, miss communication, cuek, bahkan sering selingkuh, kita malah sibuk nenangin diri sendiri. Nyari alasan biar tetap bertahan, bukan berhenti buat mikir ulang. Ya karena pikiran itu tadi "sudah terlanjur lama." Mirip-mirip kayak kasus Aurellie kecil di buku Broken Strings.

Hal yang sama juga kejadian waktu kita suka satu orang bertahun-tahun. Padahal ada yang datang, ada yang lebih hadir, ada yang niatnya lebih jelas. Tapi semuanya kalah sama satu nama yang sudah lama kita simpan di kepala. Bukan karena dia paling tepat, tapi karena terlalu banyak waktu yang sudah terlanjur kita habiskan dan kita kasih ke dia.

Di luar urusan perasaan, ini juga sering kejadian di hidup sehari-hari. Bertahan di kerjaan yang bikin capek, lingkungannya toxic, tapi tetap dijalanin karena “sayang kalau resign, udah lama di sini.” Atau terus ngejar tujuan yang sebenarnya sudah nggak kita mau, cuma karena dulu pernah berjuang keras buat sampai ke titik itu.

Sunk cost fallacy kerjanya pelan. Nggak langsung terasa salah, tapi lama-lama berat. Kita terus jalan bukan karena arahnya benar, tapi karena takut ngaku kalau nggak semua perjalanan harus diselesaiin. Dan kadang, keputusan paling masuk akal bukan soal bertahan lebih lama, tapi berani berhenti sebelum diri sendiri benar-benar habis.

Tapi tentu saja, nggak semua bertahan itu salah. Bertahan di tempat yang memang kita idam-idamkan sejak dulu juga sah-sah aja. Ini cuma soal sadar, apakah kita bertahan karena ingin, atau karena sudah terlanjur.

Komentar