Kamis lalu, terdengar kabar seorang pemuda melukai seorang perempuan karena obsesi dan juga sakit hati. Pengelolaan emosi dan kemampuan berpikir itu penting, karena dampaknya bukan cuma ke diri sendiri, tapi juga ke orang lain.
Kadang kita merasa seseorang itu jahat.
Tapi bisa jadi, di dalam pikiran dan dunianya, dia tidak merasa melakukan kesalahan apa pun.
Kenapa bisa begitu?
Karena setiap orang punya inner values yang berbeda.
Cara kita menilai sesuatu tidak selalu sama dengan cara orang lain menilainya.
Hal yang bagi kita terasa sangat menyakitkan, bisa saja di dunia dia itu hal kecil. Biasa saja. Tidak perlu dimasukkan ke hati.
Bukan selalu karena dia tak peduli, tapi karena standar rasa, empati, dan batas toleransinya manusia berbeda.
Begitu juga sebaliknya.
Masalah yang menurut kita, “ah, cuma begitu doang”, bisa jadi saja luka besar bagi orang lain.
Kapasitas setiap orang dalam menahan sakit, menghadapi tekanan, dan memaknai kejadian tidak sama.
Itulah kenapa kadang kita kecewa.
Bukan semata karena orang lain sengaja menyakiti, tapi karena kita berharap mereka paham cara kita merasa.
Padahal mereka tumbuh dengan cara pandang yang berbeda, nilai yang berbeda, pengalaman yang berbeda.
Yang bisa kita ubah adalah cara pandang kita.
Kita tidak bisa mengontrol dunia, tidak bisa memaksa orang lain berpikir seperti kita. Tapi kita bisa mengatur respons kita sendiri.
Menjadi orang yang sensitif itu ada plus minusnya guys.
Kamu mungkin lebih mudah terluka, tapi kamu juga lebih peka, lebih dalam merasakan, lebih mudah berempati.
Jadi pelan-pelan saja.
Syukuri kapasitas rasa yang kamu punya.
Perlahan mari belajar self control.
Karena pada akhirnya, bukan dunia yang harus berubah demi kita, tapi cara kita memandang dunia yang bisa kita latih setiap hari. 🌷
Komentar
Posting Komentar